Sabtu, 27 Mei 2017

Green Canyon, Ngarai Hijau tanpa Nilai Merah

Dok: Eli

Selama dua belas jam, kami duduk berdesakan di sebuah minibus berukuran sedang. Jalan terus berkelok dan semakin lama semakin mengecil, tapi hanya sedikit sekali jalan rusak. Saat kami tiba di meeting point untuk Body Rafting, dari dua puluh penumpang, hanya satu yang mengalami mual cukup parah. Hal ini membuat kami agak lupa bahwa kami sedang menyusuri wilayah pedalaman Jawa Barat, dimana jalan rusak biasanya lebih merupakan norma daripada pengecualian.

Meeting point itu berupa sebuah lapangan yang tidak terlalu luas, yang disesaki oleh mobil bak, minibus, hingga bus besar yang sedang parkir. Suasana tidak terlalu riuh, tapi disana-sini berbagai kelompok kecil yang terpisah terlihat sibuk mempersiapkan diri untuk melakukan body rafting seperti kami. Disini, kami disambut oleh sarapan nasi goreng dan teh manis yang disajikan di sebuah warung makan kecil. Kami diharapkan tiba pukul tujuh, sementara saat itu sudah jam sembilan. Tak ayal nasi goreng kami sudah dingin. Tapi setelah dua belas jam kelaparan dan kedinginan di perjalanan, nasi goreng itu terasa cukup lezat.

Saya sendiri pernah kesini sebelumnya. Sepuluh tahun yang lalu, saat Aher memenangkan kursi gubernur Jawa Barat. Salah seorang petinggi di kantor orang tua saya merupakan bagian dari tim sukses Aher dan dia merayakan kemenangannya dengan menyewa dua bus ke Pangandaran. Kala itu, Green Canyon adalah sajian sampingan, sementara pantai Pangandaran adalah menu utamanya. Di Green Canyon, kita hanya bisa menyewa perahu untuk menyusuri sungai hingga berlabuh di mulut sebuah gua. Pemandangannya indah, tapi pengalamannya tidak istimewa. Sepuluh tahun kemudian, sungguh menakjubkan bagaimana Green Canyon telah berubah.

Setelah makan, kami dibagikan perlengkapan keselamatan seperti pelampung, helm, sepatu khusus dan karet untuk mengikat kacamata. Lalu kami naik di mobil bak dan dikirim ke sebuah titik yang lebih tinggi. Dari titik ini, kami berjalan sekitar 15 menit ke bibir sungai. Di belakang kami, ada mulut gua yang cukup besar. Penduduk lokal menyebutnya gua bau, karena gua ini merupakan tempat tinggal ribuan kelelawar yang dari tahun ke tahun melapisi lantai gua dengan kotoran mereka. Untungnya, baunya tidak sampai ke mulut gua. Di depan gua ini, para pemandu sekali lagi menjelaskan tata tertib serta paduan keamanan. Seperti biasa, salah satu aturan keras adalah dilarang menyepelekan atau merendahkan alam meskipun hanya bercanda. Kami paham. Bagaimanapun, pernah ada wisatawan yang meninggal di daerah ini. Kewaspadaan harus selalu diutamakan. Lalu kami diberi pilihan. Mau masuk ke sungai lewat tepian, atau loncat dari tebing setinggi 3 meter?

Dok: Eli

Saya jarang melakukan riset saat hendak liburan. Prinsipnya, semakin sedikit yang saya tahu sebelum berangkat, semakin banyak yang saya alami saat di tempat. Bahkan saat saya melompat dari tebing, saya masih tidak tahu apa sebenarnya yang ditawarkan oleh body rafting. Gambaran saya adalah perjalanan yang sama persis dengan sepuluh tahun yang lalu, tapi tanpa perahu. Benak dan tubuh saya mengharapkan sebuah perjalanan yang tenang dan damai, dimana arus-lah yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan. Namun, saat arus terasa semakin deras, membawa tubuh-tubuh berpelampung kami melalui rute yang akan kami tempuh, barulah saya sadar betapa salahnya anggapan ini.

Ektrim tapi aman. Penuh resiko mematikan, tetapi masih dapat dilalui oleh anak berumur 6 tahun (dengan bantuan). Itulah kiranya gambaran yang tepat untuk perjalanan body rafting ini. Selama empat jam, kami dibawa menghadapi jeram-jeram deras dimana kualitas helm kami benar-benar diuji. Lalu saat jeramnya terlalu deras dan bebatuannya terlalu ceram, kami diarahkan keluar sungai untuk merayap di ngarai-ngarai tepian sungai. Ditengah-tengah, ada beberapa tebing tempat melompat. Dari yang setinggi tiga meter seperti diawal, hingga tebing setinggi tujuh meter yang mengharuskan kami untuk berlari sebelum meloncat untuk menghindari bibir tebing yang menonjol. Sebelum setiap titik yang agak sulit, para pemandu selalu memberikan tips tentang apa yang harus dilakukan. Lucunya, apabila salah satu dari kami gagal mengikuti instruksi secara sempurna dan menabrak bebatuan, maka para pemandu itu akan meringis bersama kami yang dibelakang sambil bergumam, "itu sakit pasti,".

Semakin jauh kami bertualang, semakin terasa betapa hebatnya para arsitek di balik paket body rafting ini. Dari dua anak sungai berbentuk ngarai yang mengalir di wilayah pedalaman, saya membayangkan para arsitek ini berkali-kali bereksperimen di sepanjang sungai demi mendesain paket yang paling tepat untuk dijual kepada masyarakat. Dimana harus meloncat, dimana harus memanjat, dimana harus menyelam. Bagaimana gerakan arus, titik mana yang perlu dijaga. Semua sudah terpetakan dengan baik, sehingga pelancong seperti kami hanya tinggal menikmati sensasinya dengan resiko yang telah diminimalisir dengan cerdas.

Pinjem fotonya ya, mbak.

Usaha para arsitek ini juga didukung oleh aktor-aktor dalam sektor pendukung. Mulai dari kondisi akses jalanan yang sempat saya ulas diawal, hingga akomodasi seperti homestay (yang sangat bagus, mengingat harga yang kami bayar tidak terlalu mahal), pengantaran dan makanan, semuanya dikelola dengan cukup baik. Tidak ada komplain apapun selama kami disana. Plus, cukup terasa bahwa kegiatan pariwisata di Green Canyon sangat memberdayakan masyarakat lokal. Dan nyaris semua orang yang kami temui, mulai dari penyaji makanan di warung, supir, pemandu, hingga warga lokal merasa senang berinteraksi dengan kami -sebuah sinyal yang menandakan rendahnya asimetri distribusi hasil pariwisata.

Kalaupun boleh ada catatan, mungkin objek wisata lain selain green canyon juga perlu lebih dipoles. Ada dua pantai yang kami datangi, salah satunya pantai batu hiu. Pantai ini sebenarnya indah, dengan tebing besar yang disulap menjadi semacam taman yang teduh. Namun setelah pengalaman melakukan body rafting yang luar biasa, panai-pantai ini menjadi terasa sangat biasa. Mungkin giliran arsitek generasi selanjutnya untuk lebih mengeksplorasi pesona alam lain di Pangandaran dan mengemasnya menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para wisatawan.

Kamis, 11 Mei 2017

Ironi Pulau Pari


Setelah nyaris tiga jam perjalanan, kapal penumpang sederhana yang kami tumpangi akhirnya berlabuh di Pulau Pari. Beberapa dari kami masih basah, karena di tengah perjalanan tadi hujan sempat mengguyur penumpang di kabin atas yang tak terlindungi oleh atap yang layak. Tapi semuanya terlihat segar. Tidak ada satu pun, bahkan anak-anak, yang mabuk laut. Perjalanan ini memang tidak cantik, tapi efisien. Dan bagi kebanyakan penumpang di kapal ini, hal itu sudah cukup.

Kami menjejakkan kaki di dermaga dan diarahkan menuju homestay. Penyedia tur menjanjikan homestay menarik di pinggir pantai, tapi homestay yang kami tempati berada di tengah perkampungan -menempel langsung ke rumah pemiliknya seperti kos-kosan. Homestay itu nyaman dan bersih, dengan dua kamar mandi sempit yang tidak bisa dikunci serta tanpa ruang tengah untuk bercengkrama. Homestay ini tak lebih dari sekedar ruang tidur.

Akomodasi yang serba efisien ini, yang sengaja kami pilih untuk menghemat biaya, tidak sedikit pun mengurangi pesona pulau pari. Kami menggunakan perahu nelayan untuk melakukan snorkeling di beberapa spot yang kelabu. Tidak ada terumbu kerang berwarna-warni, dan beberapa titik masih dihidupi oleh bulu babi. Namun ada ratusan ikan jinak yang mengajak menari, dan sekali lagi itu cukup. Ada tiga pantai yang menarik, dimana kita bisa melihat matahari terbit dan terbenam, mencari bintang laut, atau sekedar berenang diantara hutan-hutan bakau. Kala itu sedang long weekend, tapi tidak sedetik pun pulau ini terasa terlalu sesak untuk dinikmati.


Bagaimanapun, pulau seribu adalah bagian dari Jakarta. Dan sama seperti Jakarta, perlu usaha keras untuk mengabaikan celah-celah masalah yang menganga. Baru enam jam kami mengenal pulau ini, saat sedikit demi sedikit pulau yang indah ini memperlihatkan betapa tidak berkelanjutannya pengelolaan wisata disini.

Kala itu kami tengah berjalan menuju tempat menikmati matahari terbenam. Cuaca berawan, matahari hampir pasti tidak kelihatan, tapi toh kami hanya punya sehari liburan. Ada anjungan panjang yang menjorok ke laut, dimana kita bisa duduk dan menyaksikan senja. "Dulu ini dermaga Pulau Pari, sekarang rusak," kata pemandu kami. Kenapa rusak? Ada pulau buatan disitu, kata sang pemandu sambil menunjuk pulau dengan deretan villa yang tengah dibangun, dimana di setiap villa terparkir speedboat. Pulau buatan itu merubah pola arus di sekitarnya, membuat sang dermaga tergerogoti, hanya menyisakan anjungan panjang yang retak disana-sini, tempat kami duduk. Sama-sama orang Indonesia, sama-sama paham, tidak ada yang perlu bertanya apakah pembangunan pulau itu berizin atau dicek dahulu dampaknya terhadap lingkungan.

Anjungan di pantai itu memiliki dua sisi, di satu sisi ada pantai bakau yang luas. Di sisi lain, hanya ada sampah. Kenapa tidak ada yang membersihkan? "Pengelolaan wisata di sini masih jadi sengketa," ujar sang pemandu. Baru beberapa minggu yang lalu, teman sang pemandu diciduk oleh aparat karena dianggap mengambil retribusi liar di salah satu pantai. Itu bukan pungutan liar, kata sang pemandu. Pantai itu dikelola swadaya oleh masyarakat sejak dulu, sampai tiba-tiba ada perusahaan yang mengklaim kepemilikannya -dan kepemilikan seluruh tempat wisata pulau pari. Perusahaan itu, sang pemandu hanya menyebutnya sebagai "PT", terus berusaha merebut pulau pari dari masyarakat. Bahkan saat ini untuk mengganti genting rumah pun masyarakat diharuskan untuk melapor dulu ke PT, ceritanya getir.


Esok paginya kami pergi ke Pantai Perawan, pantai terindah yang mengambil peran sebagai krim diatas krim di Pulau Pari. Dengan pasirnya yang putih, airnya yang tenang, dan pulau-pulau bakau kecil yang tersebar ditepian, pantai ini sangatlah cantik. Kami berenang agak jauh meninggalkan pantai utama yang ramai ke pulau bakau yang lebih kecil. Hanya ada kami disitu. Semua terasa indah dan alami, sampai kami melihat mesin penyedot pasir yang sedang tidak berfungsi. Mesin itu berukuran sedang dan terlihat jelas rakitan tangan. Ditanya tentang hal ini, sang pemandu menjelaskan dengan santai "itu untuk membentuk lanskap pantai ini."

Ada ironi yang menyengat tentang pergi dari Jakarta untuk beristirahat dari dinamika urban yang artifisial, untuk kemudian disuguhi sebuah pantai cantik yang ternyata lebih artifisial dari banyak hal di Jakarta. Sekali lagi, kami hanya bisa bertanya-tanya tentang dampak reklamasi kecil-kecilan ini terhadap habitat alami di Pulau ini. Pulau-pulau buatan di Pantai Perawan memang ditanami bakau-bakau yang kelak mungkin akan menjadi ekosistem yang sehat lagi. Tapi dalam jangka pendek, tak terbayang betapa banyaknya biota laut yang hilang karena rumah alaminya dirombak habis-habisan. Kata sang pemandu, dulu di Pulau Pari ada sekitar lima spesies bintang laut. Sekarang hanya ada tinggal satu.


Beberapa dari kami yang berkunjung ke Pulau Pari adalah bagian dari tim yang melakukan rebranding di Toraja. Jadi kami tidak benar-benar awam tentang pengelolaan wisata di Indonesia, terutama tentang betapa kecilnya perhatian para pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan. Toraja adalah tempat wisata besar yang diperjuangkan oleh banyak aktor-aktor lokal yang visinya mengagumkan, meski kadang berbenturan satu sama lainnya. Tempat wisata lain yang sempat kami teliti, Tanjung Puting, juga dilindungi oleh banyak pemain lokal yang sadar akan pentingnya keberlanjutan. Aktor-aktor inilah yang tidak sempat kami lihat keberadaannya di Pulau Pari. Diantara persengeketaan sengit antara masyarakat dan PT, sepertinya tidak banyak ruang yang tersisa untuk memikirkan kelestarian lingkungan serta pengelolaan wisata yang dapat memberdayakan penduduk lokal.

Pulau Pari. Begitu dekat dengan Jakarta, tapi begitu jauh dari visi pariwisata negeri. Satu lagi ironi yang disuguhkan oleh Indonesia.

Senin, 01 Februari 2016

Feel Alive Yet?

Sekali lagi aku mengedarkan pandanganku, menikmati pernak-pernik berbau Tionghoa yang tersusun apik menghiasi restoran ini. Kekasihku berkali-kali mengutarakan keinginannya untuk mencoba tempat ini, tetapi belum pernah sekalipun keinginannya terpenuhi.

Pandanganku berhenti di gadis yang berada di sebelahku. Dia terlihat mengamati menu dengan serius, penuh tekad untuk menciptakan efisiensi Pareto antara harga dengan kenikmatan demi membuatku terkesan.

Seperti yang selalu ia lakukan sejak detik pertama aku melihatnya.

Rabu, 21 Oktober 2015

Tak Berdaya Melawan Start-Up: Alasan Bisnis Konvensional Selalu Kalah


Traveloka, Air B&B, Gojek, Lazada. Empat perusahaan start-up ini dapat dijuluki distruptive bussiness karena, selain memperkenalkan model bisnis baru yang digilai konsumen, mereka juga menggulung tatanan bisnis konvensional yang ada sebelumnya. Traveloka menggoyang bisnis travel agent di seluruh negeri; Air B&B dan Gojek membuat industri hotel dan transportasi dalam kota ketar-ketir; dan Lazada membantu membuat pusat perbelanjaan IT seperti Mangga Dua nyaris mati. Fenomena ini terbilang mengagumkan karena yang diganggu oleh bisnis-bisnis distruptif ini bukan hanya pemain kecil; pemimpin-pemimpin pasar yang selama beberapa dekade terakhir merajai hati konsumen pun seakan tidak berdaya menghadap para perusahaan start-up ini.

Fenomena ini tentu membuat kita bertanya-tanya. Apakah sih yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan start-up ini sehingga mereka begitu digdaya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dipahami bahwa ada tiga elemen utama yang menentukan kualitas suatu organisasi perusahaan. Tiga elemen tersebut adalah sumber daya, proses dan nilai. Sumber daya adalah aset yang dimiliki perusahaan seperti pekerja, teknologi, modal dan lain-lain. Proses adalah alur kerja baik formal seperti prosedur operasi standar maupun informal seperti pola komunikasi antar individu dan pola pengambilan keputusan. Terakhir, nilai dapat didefinisikan sebagai serangkaian sistem kepercayaan yang menentukan tingkat prioritas berbagai aspek dalam organisasi (misalnya ketika ada perbedaan pendapat, apakah lebih penting menjaga perasaan lawan atau memenangkan argumen? dll.). Di lapangan, perusahaan konvensional cenderung memiliki sumber daya yang lebih baik dibandingkan dengan start-up di awal. Tetapi proses dan nilai organisasi mereka tidak cocok dengan lingkungan bisnis era digital. Karena itulah di berbagai sektor bisnis perusahaan start-up dapat mengalahkan perusahaan konvensional dengan relatif mudah.

Mari kita ambil Traveloka sebagai contoh. Saat Traveloka memasuki bisnis online travel agent (OTA), start-up ini harus menghadapi perusahaan travel berskala nasional seperti Dwidaya Tour. Dwidaya Tour sendiri memiliki sumber daya yang cukup untuk membuat dan menjalankan bisnis OTA. Bahkan Dwidaya Tour lebih dulu memasuki bisnis OTA dengan mendirikan Ezytravel pada tahun 2008 –yang ditutup pada tahun 2009 sebelum dibuka kembali pada tahun 2011; jauh sebelum Traveloka berdiri di tahun 2012. Meski memiliki keunggulan sumber daya dan jaringan, tetapi elemen proses dan nilai Ezytravel yang kebanyakan masih diturunkan dari bisnis travel konvensional ala Dwidaya Tour membuatnya tampak kikuk ketika dibandingkan dengan Traveloka. Secara proses, Traveloka yang konsisten berevolusi untuk menciptakan user interface terbaik bagi konsumen (termasuk mobile apps) serta melakukan pemasaran melalui kombinasi media digital dan konvensional membuat Ezytravel keteteran. Secara nilai, Ezytravel yang terpaku nilai travel agent konvensional masih memprioritaskan promo murah sebagai ujung tombak pemasarannya; sementara Traveloka dengan leluasa mengeksplorasi aspek kecepatan, transparansi harga bahkan aspek emosional yang ternyata cukup diapresiasi konsumen Indonesia. Karena itulah Traveloka sekarang memimpin bisnis OTA sementara Ezytravel masih berjuang untuk merebut sisa-sisa market share.

Masih banyak contoh lain yang dapat diangkat seperti bagaimana Gojek merevolusi bisnis transportasi perkotaan dengan aplikasi smartphone meskipun perusahaan taksi Blue Bird telah meluncurkan aplikasi sejak tahun 2011. Intinya adalah, jika Anda ingin perusahaan konvensional Anda memiliki kesempatan dalam bersaing dengan perusahaan start-up, ciptakanlah proses dan nilai organisasi yang sesuai dengan lingkungan bisnis era digital.

Minggu, 27 September 2015

Krisis Ekonomi dan Manajemen Bisnis Berkelanjutan

 

Dengan semakin mendekatnya nilai Dollar Amerika ke titik psikologis Rp 15.000, bayang-bayang krisis semakin terasa mendekati kita. Dalam waktu dekat -jika tren ini berlanjut- PHK besar-besaran akan terjadi, harga barang-barang akan semakin melonjak dan satu demi satu lembaga perbankan akan ambruk dengan tidak elegan. Singkatnya, krisis ekonomi akan membawa banyak sekali penderitaan. Tapi tahukah Anda bahwa krisis juga memberi ruang untuk bisnis yang lebih berkelanjutan (sustainable)?

Krisis ekonomi bagi perusahaan dapat diibaratkan seperti wabah pes di abad pertengahan. Mereka membunuh orang-orang yang lebih lemah dan menyisakan orang-orang yang lebih kuat, lebih bersih dan lebih beruntung. Dalam konteks bisnis, perusahaan-perusahaan dengan manajemen yang buruk akan tumbang sementara perusahaan dengan manajemen yang lebih baik akan bertahan. Perusahaan baik kemudian akan tumbuh lebih besar mengisi ruang-ruang yang ditinggalkan oleh perusahaan buruk; menciptakan lingkungan bisnis lebih baik yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menariknya, definisi manajemen yang baik ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Norma bisnis modern yang dikarakterisasikan dengan profesionalisme, strukturisasi dan tanggung jawab terhadap pemegang saham justru lebih tidak tahan krisis. Profesionalisme membuat hubungan perusahaan dengan stakeholder semata bersifat teknis dan praktis -tanpa komitmen dan kepercayaan jangka panjang; strukturisasi membuat pengambilan keputusan lebih lama dan lebih tidak fleksibel; sementara tanggung jawab terhadap pemegang saham membuat perusahaan mengejar keuntungan jangka pendek yang lebih mudah terlihat dan lebih cepat memuaskan para pemegang saham. Ketika krisis menerpa, tiga hal ini menjadi kunci ketidakberlanjutan yang dijamin akan membunuh perusahaan dengan efisien.

Lalu manajemen bisnis seperti apa yang berkelanjutan? Perusahaan seperti apa yang akan tumbuh sementara perusahaan-perusahaan lain tumbang? Hasil survey konsultan bisnis global PwC pada tahun 2012 menunjukan hasil yang mengejutkan: perusahaan keluarga adalah model manajemen tahan krisis yang menjadi kunci keberlanjutan bisnis di abad 21 (artikel lengkap dapat dibaca di sini). Perusahaan keluarga sendiri pernah menjadi fenomena di tahun 1970-1980an ketika perusahaan-perusahaan keluarga dari Asia Timur tumbuh pesat di level internasional. Namun sejak saat itu model perusahaan keluarga dianggap ketinggalan jaman dan perusahaan-perusahaan didorong untuk mengadopsi sistem manajemen modern yang 'profesional' dan 'efisien'. Sungguh ironis melihat keadaan telah berbalik!

Rahasia dibalik ketahanan model manajemen perusahaan keluarga terhadap krisis dapat dikerucutkan menjadi tiga hal utama yang merupakan kebalikan dari karakter perusahaan modern, yaitu:
 
1. Hubungan Berbasis Kepercayaan

Manajemen modern memandang pegawai, penyuplai bahan baku dan distributor sebagai roda gigi yang membuat bisnis berjalan. Sebaliknya, perusahaan keluarga membangun hubungan dengan seluruh stakeholder-nya secara personal. Pendekatan ini menimbulkan kepercayaan, komitmen dan loyalitas; tiga modal penting saat krisis menerpa.

2. Kecepatan Pengambilan Keputusan

Saat krisis, pemimpin perusahaan keluarga dapat secara fleksibel mengambil kontrol dan mengendalikan perusahaan agar bergerak menjauhi badai. Keistimewaan ini tidak dimiliki oleh perusahaan 'modern' dengan struktur-strukturnya yang kaku. Ketika perusahaan keluarga tengah melesat melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap krisis, dewan direksi perusahaan 'modern' mungkin masih melakukan meeting-meeting panjang yang hasilnya tidak konklusif.

3. Perspektif Jangka Panjang

Tanpa pemegang saham yang meminta untuk segera dipuaskan, perusahaan keluarga dapat berinvestasi dalam aspek-aspek jangka panjang. Misalnya apabila perusahaan masih mengimpor bahan baku, manajemen dapat mengakuisisi sektor hulu sehingga ketergantungan terhadap impor berkurang. Bagi pemegang saham proses akuisisi ini kurang menarik karena biayanya besar dan keuntungannya sedikit; tetapi ketika nilai Dollar naik menembus atap, berkurangnya ketergantungan terhadap impor dapat menjadi faktor penentu keselamatan perusahaan.

Begitulah. Model manajemen perusahaan keluarga menawarkan perspektif yang berbeda -bahkan berkebalikan, dari model manajemen modern. Dengan bayangan krisis yang terus menggedor pintu, inilah saat yang tepat untuk meninjau perspektif perusahaan dan melakukan beberapa perubahan demi keberlanjutan.

Rabu, 09 September 2015

Emosi dan Pengambilan Keputusan


Saat Irlandia mengalami kelaparan besar-besaran pada tahun 1845-1542, Pemerintahan Inggris mengirimkan pejabat-pejabat secara silih berganti untuk mengatasi krisis tersebut. Kebanyakan pejabat tersebut akhirnya gagal, tapi ada satu pejabat yang menonjol karena kesuksesan serta metodenya yang unik. Pejabat tesrebut secara konsisten menolak untuk melakukan peninjauan lapangan dan lebih memilih bekerja dari mejanya. Alasannya sederhana, pejabat tersebut tidak ingin emosinya terlibat. Ia tahu apabila ia melakukan peninjauan lapangan, hatinya akan terenyuh oleh kondisi orang-orang yang kelaparan dan Ia akan membuat keputusan-keputusan bodoh karena terpengaruh emosi.

Kaitan antara emosi dan pengambilan keputusan memang menarik. Di satu sisi, emosi adalah pemicu pengambilan keputusan yang paling efektif. Di sisi lain, emosi bukanlah dasar pengambilan keputusan yang bijak. Hal ini sudah disadari manusia sejak lama, salah satunya oleh Aristoteles yang dalam kajian retorika-nya mengklasifikasikan berbagai ‘jalur’ emosi seperti rasa marah, sedih, takut dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan persuasi secara efektif; sambil memperingatkan bahwa jalur persuasi yang baik dan ‘terhormat’ tetaplah melalui logika.

Dahsyatnya pengaruh emosi terhadap pengambilan keputusan kembali terbukti saat foto Aylan yang terbujur kaku di tepian pantai Turki beredar luas. Aylan adalah pengungsi perang saudara di Suriah yang sedang berusaha mencari suaka secara ilegal di Eropa. Sontak, gelombang kesedihan, kemarahan dan rasa frustasi masyarakat internasional menggelegak; mendorong Uni Eropa untuk menampung lebih banyak pengungsi dan melonggarkan standar penerimaan pengungsi. Tuntutan ini dikabulkan hampir segera oleh pemerintah banyak negara.

Keputusan untuk menampung lebih banyak pengungsi ini sejatinya tidak bijak karena ia tidak berdasarkan data/statistik atau berdasarkan logika (detail bisa didiskusikan lebih lanjut/diriset secara terpisah). Pertama, gelombang pengungsi dari Suriah (dan orang-orang yang tewas tenggelam di perjalanan) sudah ada sejak empat tahun yang lalu dan Uni Eropa secara sistematis dan terukur sudah menampung pengungsi; tidak ada alasan valid untuk tiba-tiba meningkatkan pengungsi yang diterima secara sembrono. Kedua, sumber masalah ada pada konflik di Suriah sehingga energi masyarakat internasional seharusnya difokuskan untuk menyelesaikan konflik; bukan menampung pengungsi yang jumlahnya tidak akan habis selama konflik masih ada. Ketiga, masalah pengungsi tidak selesai begitu mereka sampai di Eropa; gegar budaya dan kurangnya keahlian pengungsi justru akan membawa masalah dalam jangka panjang.

Jika mengacu pada Elaborate Likehood Model, emosi melakukan persuasi melalui rute pheripheral (secara literal berarti ‘kurang penting’). Rute pheriperal lebih efektif melakukan persuasi karena informasi yang melalui rute ini tidak dipikirkan secara matang-matang. Namun, perubahan sikap atau pengambilan keputusan yang dihasilkan rute pheripheral bersifat sementara, mudah berubah dan tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, diperkirakan setelah segala emosi mereda, pemerintah yang terkait serta masyarakat internasional akan kembali kepada sikap awal mereka sebelum foto Aylan beredar –for better of worse.


Begitulah; seandainya fotografer tidak mengambil foto Aylan atau Aylan tidak terdampar di pantai dengan posisi yang begitu menyentuh, maka Aylan hanya akan menjadi satu lagi angka yang tidak signifikan dalam catatan statistik. Ironisnya, justru statistik inilah yang lebih bijak digunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan.

Kamis, 16 April 2015

Go Talk to 100 Women



Do you want to be successful?

According to my humble experience, there are two ways one can gain success in career.

First, be good at strategy instead of tactic. It's good if you can draw, count, or talk, but you will gain much more if you are able to put purpose and result as context on those skills.

Second, be good at communication. This is the subject that I'd like to elaborate on this writing.

The key of excellent communication lies on confidence and attractiveness. As simple as it may sound, these characteristics are very hard to achieve by those who are simply not born with it (I overstretched this statement a little bit, both nurture and nature have significant influence in shaping this 'natural talent'). Some people are so good, they can deliver eloquent presentation without the tiniest bit of preparation. Others who are not so lucky can spend one year preparing only to crash and burn when the occasion arrives.

I wouldn't have to ramble on to prove the importance of communication as leverage for one's career. What the reader should understand is, whether it is an important presentation in front of high management or a simple remarks on a brainstorming session, communication can only be successful if it connects the speaker and the target. And in order to establish connection, one must posses confidence first to initiate contact then attractiveness to retain the target attention. Just to be clear on this, what I meant by attractiveness is not as simple as physical attractiveness. It might be best defined as certain persona that basically attract other people in whatever means necessary.

Learning these two traits, confidence and attractiveness, can be a little bit tricky since it is not skill that one can simply practice in order to be good. Confidence is rooted on one's thought, attitude and action. It begin with one's thought about oneself and how others see him/her. Then it proceed toward one's attitude/feeling. Lastly, these thoughts and attitude will seep through action. If the action is met by positive reinforcement (appreciated, admired, etc), the thoughts and attitude behind it will be reinforced over and over again.

With this understanding in mind, how, then, can one increase one's confidence?

Well, first route, one can change his thoughts and feelings. This, however, are easier said (or written) than done.

The more radical route, and only the bold or desperate will try this, is to change your action.

Albert Ellis once try this method. To overcome his anxiety, he force himself to talk to 100 women. Asking them for a date. In the end, Ellis didn't get a date at all, but his anxiety is largely reduced while his confidence soar.

This is largely thanks to cognitive consonance mechanism every individual has on their brain. We have a very basic tendency to align our thought, feeling, and action. Whenever there's disparity on these three aspects, one will feel very uncomfortable. The most beautiful thing is, it is easier for thought and feeling to realign with action that it is for action to realign with thought and feeling. So when one start to act confidence, one will feel very uncomfortable at first but then one's thought and feeling will realign themselves to suit the action. That's why Ellis method is so successful.

So if you are having trouble with communication due to severe lack of confidence, this is what you should do: go talk with 100 women stranger (or men, if you're a woman, but there's no evidence it will work as good). Don't be afraid, you've got nothing to lose except your lack of confidence.

That's all about the shortcut to manifest confidence. Attractiveness, will be the subject for another time.

Good luck, gentlemen.

Senin, 13 April 2015

(Tidak) Menyenangkan Klien Lewat Riset


Menurut Stephen King, dalam industri komunikasi strategis terkadang kita menggunakan riset seperti orang mabuk menggunakan lampu jalan, sebagai pegangan bukannya penerang.

Saat saya bekerja di industri Public Relation, indikator utama untuk mengukur efektivitas kegiatan kami adalah Advertising Value Equvalency –disingkat AVE. Hal ini sangat ironis, karena sejak kuliah kami sudah diajarkan bahwa AVE adalah metode pengukuran yang buruk. AVE menghitung sebuah publikasi dari nilainya sebagai iklan, sehingga indiktor yang diukur adalah dimensi ruang dan warna dari artikel yang muncul (difaktorisasikan dengan positif/negatifnya berita tersebut). AVE mengabaikan banyak aspek penting dari artikel seperti apakah ia enak dibaca, apakah ia menarik untuk dibaca, bagaimana brand dicitrakan dalam artikel tersebut, bagaimana respon audiens setelah membaca artikel tersebut, dan lain-lain. Satu-satunya alasan mengapa AVE tetap digunakan adalah karena hasilnya berbicara dalam bahasa yang klien mengerti: Rupiah!

Orientasi yang terlalu besar terhadap AVE memiliki dampak buruk yang menjalar. Konsultan PR terpaksa mengejar keluasan dimensi artikel, bukannya kedalaman publikasi. Tidak penting apakah publikasi yang muncul menarik atau tidak, akan dibaca atau tidak, memiliki news value atau tidak, karena yang penting muncul dulu. Akibatnya muncul simbiosis antara konsultan PR yang mengejar AVE dengan jurnalis pemburu amplop yang tulisannya tidak optimal. Ujung-ujungnya klien terbuai dengan nilai AVE yang konsisten berada di angka tinggi, sementara tujuan utama kegiatan PR berupa meningkatnya citra perusahaan di mata masyarakat bisa gagal tercapai karena rendahnya kualitas publikasi.

Kembali ke cerita awal tentang lampu jalan, efek destruktif dari AVE ini disebabkan karena riset digunakan sebagai pegangan (support), bukan sebagai penerang (illumination). Penggunaan AVE sebagai alat untuk ‘menunjukan pada klien bahwa kita berhasil’ mengaburkan pertanyaan evaluatif yang sebenarnya harus ditanyakan, yaitu ‘apakah kita berhasil meningkatkan citra perusahaan’. Hilangnya fungsi evaluatif inilah yang kemudian merusak proses seperti yang telah diilustrasikan.

Mental ‘pegangan bukan penerang’ ini tentu tidak eksklusif terjadi di bidang PR. Saya pernah menyaksikan seorang AE didorong untuk menyelesaikan sebuah survei yang cukup ekstensif dalam satu hari. Alasan atasannya adalah ‘yang penting ada grafik dulu di presentasi, agar klien melihat kita serius melakukan riset’. Bisa ditebak, hasil risetnya kacau dan strategi yang dibangun atas riset tersebut tidak kalah kacau.

Di kasus-kasus yang lebih serius, banyak ide kreatif brilian yang mati terbunuh akibat kesalahan penggunaan Pre-Test (menunjukan iklan pada sampel audiens sebelum peluncuran resmi, untuk melihat reaksi yang muncul). Stephen King selalu memandang rendah validitas pre-test. Menurut beliau dalam kondisi nyata audiens tidak mempelajari iklan, audiens hanya melihat iklan dan menampung ceceran informasinya secara bawah sadar. Dengan menanyakan reaksi pada sampel pre-test, maka mereka dipaksa untuk secara aktif berpikir tentang iklan tersebut –sebuah kondisi artifisial yang merusak esensi pre-test secara keseluruhan.

Di luar keberatan Stephen King, pre-test sering membawa lebih banyak masalah daripada solusi karena motivasi yang melandasinya adalah ‘agar marketing manager bisa lebih mudah meyakinkan BOD’ bukannya ‘untuk mengembangkan ide kreatif sehingga ia bisa lebih efektif dalam mencapai tujuan’. Akibatnya, banyak sekali ide kreatif yang gagal melewati pre-test hanya karena komentar-komentar tidak penting sampel yang sebenarnya tidak memiliki relevansi dengan efektivitas pesan.

Intinya, riset yang produktif harus dilandasi motivasi untuk meningkatkan efektivitas kegiatan, bukan untuk menyenangkan klien. Metode yang meragukan seperti AVE dan yang dihujat Stephen King seperti pre-testing sejatinya dapat memiliki manfaat apabila dilandasi motivasi yang tepat.

Jangan sampai kita mengikuti orang mabuk yang mencari kuncinya yang jatuh. Ia mencari di bawah lampu jalan, meskipun kuncinya jatuh di taman –karena di bawah lampu jalan dia dapat lebih mudah mencari. Meskipun patut dipahami bahwa klien yang menginvestasikan uang mereka selalu ingin hasil yang konkrit atau tidak ingin mengambil resiko, bukan berarti kita boleh meriset hal yang tidak tepat untuk memuaskan mereka.

Minggu, 12 April 2015

#AdaAqua, Ada Insight?


Salah satu pelajaran yang paling penting tentang komunikasi pemasaran yang pernah saya terima terjadi sekitar enam tahun yang lalu di kelas Komunikasi Pemasaran Terpadu. Saat itu entah bagaimana caranya, seorang dosen yang biasanya mengajar materi normatif tiba-tiba mempresentasikan materi Insight Mining dari Lowe. Dalam waktu sekitar 90 menit, dosen tersebut menjelaskan bahwa komunikasi pemasaran yang efektif harus berdasarkan pada consumer insight bukan pada fitur-fitur dari produk itu sendiri. Pesan yang disampaikan pada konsumen haruslah berupa apa yang dapat konsumen rasakan saat mengkonsumsi produk ini bukannya apa yang produk ini dapat lakukan.

Inti dari pelajaran tersebut memang sederhana, tapi pengaplikasiannya sangatlah penting. Dari pengalaman saya yang singkat di dunia profesional, tidak terhitung jumlah klien yang menuntut untuk mendaftarkan semua kelebihan produk mereka dalam pesan-pesan pemasaran. Celana dalam saya bisa ini, sabun saya bisa itu, mobil saya bisa jungkir balik, dan seterusnya. Gaya komunikasi seperti ini mungkin bisa berhasil di zaman Soekarno. Tapi di era modern dimana konsumen dibanjiri informasi tak terbatas tentang berbagai macam produk, termasuk produk kompetitor yang secara teknis kurang lebih spesifikasinya sama saja, gaya komunikasi semacam itu tidak akan berhasil.

Karena itulah pesan komunikasi pemasaran harus selalu berdasarkan pada insight.

Lalu apa itu insight? Definisi favorit saya datang dari Hawwin sekitar empat tahun yang lalu di kelas Riset Pemasaran. Menurut Hawwin, insight adalah the unseeable obviousness. Hal yang dirasakan dan disepakati kebenarannya oleh target konsumen, tetapi seringkali tidak diketahui baik oleh konsumen itu sendiri maupun oleh kita sebagai pemasar. Ketika sebuah pesan yang dibangun atas insight sampai pada target konsumen yang sesuai, akan muncul resonansi dan perasaan ‘wah iya nih’ yang kemudian bisa mengarah pada interest, desire dan action.

Salah satu iklan dengan insight yang pernah saya terima adalah iklan cetak tentang Lasik (operasi mata untuk mengurangi minus atu plus). Iklannya sederhana, hanya gambar tampak depan pemain basket remaja yang melakukan dunk dengan tulisan ‘bebaskan dirimu’. Iklan ini mungkin tidak akan memenangkan penghargaan kreatif manapun, tetapi ia langsung beresonansi dengan diri saya kala itu sebagai remaja berkacamata. Iklan ini membangkitkan keinginan terpendam bawah sadar saya untuk terlepas dari kutukan kacamata –untuk bebas bergerak seperti manusia keren.

Di balik brand yang mapan, pasti ada insight (baik karena sengaja atau tidak). Axe berdiri diatas keinginan bawah sadar pria agar wanita melakukan first move; Rexona berdiri diatas keinginan untuk selalu mengontrol situasi; dan banyak lagi.

Dari pemahaman tentang pentingnya insight ini, saya ingin membahas tentang kampanye #AdaAqua yang mulai bergulir sejak setahun-dua tahun yang lalu. Kampanye ini beberapa minggu yang lalu menjadi viral lewat iklan kreatif yang membandingkan Narji dan dengan seorang penyanyi tersohor. Pesannya sederhana, minumlah Aqua untuk meningkatkan fokus Anda.

Pertanyaannya, benarkah hal tersebut?

Melalui kampanye #AdaAqua, Aqua berusaha untuk menambahkan added value yang, saya prediksi, didorong semakin banyaknya kompetitor kuat (plus dari CEO yang terbutakan kesuksesan iklan-ikan direct Mizone, mungkin ya). Masalahnya, karena Aqua tidak melakukan perbaikan apapun dari segi produk, maka klaim added value mereka harus berdasarkan kenyataan yang sudah dirasakan oleh konsumen mereka (kita asumsikan target kampanye ini adalah konsumen yang sudah pernah meminum Aqua, karena mungkin tidak ada seorang pun yang belum pernah minum Aqua di negara ini). Dengan kata lain, dalam usaha membentuk persepsi Aqua = fokus, ‘minum Aqua bisa menambah fokus’ harus merupakan insight yang disetujui dan dirasakan oleh konsumen meskipun mungkin mereka tidak mengetahuinya secara sadar. Jika tidak, reaksi audiens yang muncul adalah “saya minum Aqua bertahun-tahun tapi tidak pernah sekalipun ia menambah fokus saya, kamu bohong”.

Saya sendiri minum Aqua saat haus, bukan saat saya kurang fokus. Karena menurut saya, sebagai target konsumen, Aqua hanya air biasa. Kalaupun minum air memang secara biologis bisa menambah fokus saya, maka tidak hanya Aqua yang bisa menambah fokus saya.


Tapi tentu saja, saya hanya mengobervasi fenomena ini dari sudut pandang saya. Mungkin agensi periklanan dan tim pemasaran Aqua, melalui riset-riset yang serius, berhasil membutikan kesahihan insight landasan kampanye ini (saya sempat bertanya pada seorang teman, yang setuju bahwa Aqua bisa menambah fokus). Yang pasti, kampanye #AdaAqua berbelok dari rute ‘kemurnian dari dalam’ yang selama beberapa dekade membuat Aqua selalu menjadi pilihan pertama, meskipun secara teknis ia dan kompetitornya sama-sama air biasa. Apakah ini belokan yang tepat? Pada akhirnya, hanya grafik volume penjualan yang bisa menjawab itu.  

Jumat, 20 Februari 2015

Menentang Filosofi ‘Goblok’ Bob Sadino

Beberapa minggu yang lalu Indonesia kehilangan salah satu ikon bisnis yang paling terkenal. Saat satu lini masa berduka, saya justru sedikit terkejut dengan sedikitnya hal yang saya ketahui tentang figur ini. Bahkan pengetahuan saya mengenai beliau bisa ditulis dalam satu kalimat sederhana, “Bob Sadino adalah pengusaha sukses di bidang agrikultur yang selalu mengenakan celana pendek,”. Sekian.

Untungnya saya tidak perlu bersusah-susah, di minggu kematiannya manusia-manusia di alam maya dengan antusias membagi filosofi-filosofi Bob Sadino semasa dia hidup. Sebagian besar bukan hal yang baru tentunya, tapi saya baru benar-benar memperhatikan kali ini. Ternyata satu tema besar yang dipercayai Bob dengan gigih adalah bahwa pendidikan sama sekali tidak penting bagi kesuksesan. “Biarpun goblok, kalau usaha pasti bisa sukses,” ujarnya. Pendidikan, terkadang juga modal, tidak terlalu penting. Bahkan kadang-kadang Bob menyindir kalangan profesional, orang-orang yang menggunakan pendidikannya untuk bekerja pada orang lain. “Bangun pagi, macet-macetan di jalan, pulang malam. Itu kerja atau dikerjain?” sentilnya jenaka.

Filosofi Bob ini tentu ada benarnya. Anjurannya tentang keberanian untuk membuka usaha, untuk bertindak dan bekerja keras –bukannya tunduk seperti anak bebek untuk kemakmuran orang lain, benar-benar dapat dijadikan inspirasi. Tapi apakah benar pendidikan itu tidak penting? Apakah gaya ‘biar goblok, asal usaha’ layak dicontoh? Menurut saya tidak.

Untuk memahami filosofi Bob dan membongkar kelemahannya, kita harus terlebih dahulu mengenal Bob Sadino lebih dalam. Menurut halaman wikipedia, Bob Sadino berasal dari keluarga kaya yang memiliki lingkup internasional. Ketika orang tuanya meninggal, Bob mewarisi seluruh harta mereka karena kakak-kakaknya yang lain sudah sukses sendiri-sendiri. Muda dan digelimangi harta, Bob kemudian melakukan perjalanan keliling dunia sampai hartanya hampir habis.

Sempat  bermukim di Den Haag, Bob memutuskan kembali ke Indonesia dengan membawa dua mobil mewah sebagai modal. Satu mobilnya dijual untuk membeli rumah dan satunya lagi dia sewakan (dikemudikan langsung oleh Bob, setelah dia berhenti kerja di Unilever karena tidak betah). Sial bagi Bob, dia mengalami kecelakaan dan mobilnya rusak total. Di titik inilah Bob jatuh sedalam-dalamnya. Sampai-sampai ia harus bekerja sebagai tukang bangunan untuk menyambung hidup, karena ia masih ngotot tidak mau bekerja untuk orang lain.

Hari-hari yang berat ini terus berlangsung sampai tangan malaikat menyelamatkannya. Iba melihat Bob yang depresi, salah satu kawan lamanya mengenalkannya pada bisnis telur ayam negeri –sesuatu yang masih baru waktu itu. Bob kemudian bangkit, menjual telur ayam pada relasi ekspatriatnya, mengembangkan sayapnya lewat usaha keras sampai-sampai ia bisa mendirikan Kemchick dan menjadi salah satu pengusaha tersukses di Indonesia.

Dari kisah hidup ini, kita bisa melihat darimana filosofi-filosofi ‘goblok’ Bob berasal. Bob melihat bahwa kesuksesannya –yang tanpa ilmu & tanpa modal , berasal semata dari kerja kerasnya (yang memang patut diteladani). Tetapi beliau abai melihat pengaruh relasi dan statusnya di masa lalu. Padahal, tanpa teman yang bisa memfasilitasinya pada bisnis telur ayam negeri dan relasi ekspatriatnya, belum tentu Bob muda bisa menjadi Bob yang sekarang.

Disinilah, menurut saya, letak kesalahan filosofi ‘goblok’. Bagi mayoritas kita yang tidak memiliki previlege Bob, pendidikan sangatlah penting untuk menunjang kesuksesan. Orang-orang ‘goblok’ dengan previlege pada akhirnya memang akan lebih mempekerjakan orang pintar dan berakhir lebih sejahtera, tetapi pendidikan dan ilmu dapat membuka pintu-pintu lain yang tidak bisa dilalui orang-orang ‘goblok’. Asalkan, seperti kata Bob Sadino, kita mau berusaha lebih keras.

Minggu, 08 Februari 2015

Gadis-Gadis Mabuk di Sebelah

Beberapa waktu yang lalu, rumah kos tempat saya tinggal kedatangan penghuni baru. Jumlahnya kurang lebih tiga orang dengan jenis kelamin wanita. Awalnya saya kira mereka hanya wanita biasa, tetapi beberapa tanda-tanda yang tidak biasa muncul silih berganti. Pertama, setidaknya dua orang wanita tersebut terdengar sering mandi bersama. Bukan hal yang aneh bagi wanita sebenarnya, tetapi masalahnya kamar mandi di rumah kos saya hanya berukuran 1x1 meter. Saya tidak menyangka dua orang bisa muat disana. Kedua, deretan jemuran segera dipenuhi oleh pakaian-pakaian dalam wanita. Ketiga, wanita-wanita ini selalu pulang jam 3 pagi, dengan terkikik, dalam keadaan mabuk.

Ya, di titik ini saya yakin mereka bukan wanita biasa.

Awalnya saya jengkel karena setiap pukul 3 pagi, saya selalu dibangunkan oleh ceracauan gadis-gadis mabuk yang berteriak "Selamat pagi," sambil membanting pintu ketika masuk ke kamarnya masing-masing. Tapi seperti kata pepatah Irlandia, bahkan dalam keaadaan digantung pun manusia akan terbiasa. Lama kelamaan gadis-gadis mabuk ini menjadi rutinitas harian yang biasa saja. Tidak berbeda dengan tukang bubur dekat kantor Bank DKI yang selalu saya satroni untuk sarapan. Malahan, gadis-gadis mabuk ini pernah membantu saya bangun untuk mengejar flight pagi ketika alarm hape sedang tidak bisa diandalkan.

Kemudian, layaknya seorang Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, saya mulai mengobservasi para gadis-gadis mabuk ini. Apa yang mereka ceracaukan, intonasi mereka, dengan siapa mereka pulang dan lain-lain. Sekitar lima hari yang lalu mereka bertengkar. Dua orang pulang duluan, satu menyusul belakangan. Yang dua orang (tinggal di satu kamar di lantai bawah) berbagi omelan, yang satu terisak-isak selama satu jam di kamarnya (tinggal di kamar berbeda di lantai atas). Sekitar empat hari yang lalu mereka sepertinya sudah berbaikan. Ketiganya pulang bersama. Yang satu langsung naik ke atas, yang dua lagi sibuk sendiri. Ternyata salah seorang dari mereka minum terlalu banyak karena terus menerus kalah hom-pim-pah. Jadilah dia muntah-muntah di kamar mandi dengan bantuan temannya.

Oh, untuk membantu Anda berfantasi saya akan sedikit dekripsikan penampilan mereka. Dari tiga gadis-gadis ini, satu terlihat sangat cantik. Dia memiliki kulit putih yang bersemu pink alami. Saya tahu dia tidak memakai make-up karena saya melihat dia pukul 9 pagi masih dengan piyama. Dua gadis yang lain tidak begitu cantik. Tapi begitu mereka memakai make up, penampilan mereka membaik.

Lalu kemarin, sesuatu yang besar terjadi. Gadis lantai atas, yang paling cantik, menangis sambil muntah-muntah. Sepertinya dia tidak kalah hom-pim-pah, karena ceracauan yang keluar adalah penyesalan filosofis akan kehidupan. Mulutnya pahit. Dia meminta air pada temannya, tetapi mereka tidak punya stok air mineral. Akhirnya dia meminum air mentah dari kamar mandi. "Kenapa harus begini?" katanya.

Kenapa harus begini?

Saya tidak menghakimi, karena itu adalah tugas tuhan dan malaikat.

Gadis-gadis ini harus berbagi kamar di rumah kos yang tarifnya hanya Rp 650.000, artinya mereka bukan orang berada. Mereka harus begini, karena inilah cara mereka untuk mencari uang. Dengan pergi ke sebuah klub karaoke, menemani pengunjung minum-minum lalu meratapi tubuh yang remuk di sisa malam. Apakah mereka punya pilihan lain? Mungkin punya. Apakah mereka mengambil keputusan yang salah? Bisa jadi. Butuh observasi lebih lanjut untuk memahami gadis-gadis ini. Sementara itu, rutinitas yang sama akan terus berulang. Tadi si cantik sempat mengeluh enggan untuk pergi, tetapi dia akhirnya pergi juga. Jam 3 nanti mereka akan kembali dengan kisah baru dan ceracauan baru. Saya akan menunggu. 

Sabtu, 03 Januari 2015

2014 Year End Review

Hari ini tanggal 3 Januari 2015. Sudah resmi 3 hari sejak tahun 2014 yang baru. Dimana saya sekarang? Apa yang harus saya lakukan kedepan?

Oke, yang pertama, di tahun politik kemarin saya tidak sedikit pun lebih dekat ke karir impian saya: sesuatu di bidang politik. Kalaupun ada pergeseran, saya justru menjauh karena pada awal tahun ini saya berpindah jalur karir dari PR ke Advertising. As we know it, lebih gampang kambing belajar berenang daripada anak iklan terjun ke dunia politik (bisa sih, tapi tidak dengan cara-cara yang saya inginkan).

Pergeseran ini sendiri bukan sesuatu yang jelek, sih. Ceritanya awal Januari lalu saya berkesempatan interview di Leo Burnett Jakarta dengan sang selebtwit legendaris Henry Manampiring. Kita ngobrol-ngobrol dan ternyata langsung nyambung. Om Henry sempat bertanya, "Kamu kan engga pernah kerja di iklan, kok tau detail-detailnya sih?" dan seketika bayangan Mas Rizal, Mbak Pulung dan Mbak Betty melintas, I had a really great teacher at kampus. Next, setelah tes stragic planning, Om Henry bilang "you should be a strategic planner at an advertising agency, because we are a rare breed" which is nice, walaupun akhirnya engga keterima karena 'pertimbangan-pertimbangan tertentu'.

Then I left PR industry and go straight to advertising business. Beberapa hal di tempat kerja yang baru membuat saya belajar lebih sedikit dan 'beraksi' lebih banyak. Setelah berbulan-bulan mengerjakan pekerjaan copywriting, saya mulai dipercaya untuk menjadi strategic copywriter, which is nice karena saya jadi mendapat kesempatan untuk presentasi ke luar kota. Tahun ini sempat bertandang ke Bali (menginap sehari) dan Yogyakarta (berangkat pagi pulang malam) serta harusnya ke Makassar dan Samarinda tapi karena isu-isu teknis diundur ke bulan Januari ini.

Oh, tahun ini dua kali liburan yakni ke Semarang (Pernikahan Derira) dan Solo (Pernikahan Bintang). Mungkin ini pertama kalinya saya liburan tidak dengan gaya backpacker, karena naik kereta non-ekonomi dan menginap di hotel instead of numpang di kosan/rumah orang. Which is nice.

Bintang dan Derira adalah dua teman yang sama sekali tidak disangka-sangka akan menikah dengan cepat. Saya masih melihat Bintang sebagai anak SMA kocak yang memuja Tanaka Reina dan Derira terasa masih berjiwa terlalu muda untuk menambatkan hatinya secara permanen. But you know what, I think they made a good decision. Buat apa menunda-nunda nikah kalau bisa sekarang? Buat apa pacaran lama-lama kalau ujungnya engga menikah? Toh selama sang istri bisa belajar ikhlas dan sang suami bisa belajar menjadi pemimpin bertanggungjawab, pasti tidak akan ada masalah. Kudos untuk teman-teman ini yang tidak termakan propaganda nikah telat ala film-film Barat. 

Apalagi ya? Bulan September kemarin sempat ngambil tes Toefl juga untuk kelengkapan tes PNS dan OJK. Dua-duanya gagal, tapi skor Toefl-nya 630. Which is nice meskipun engga tahu juga untuk apa. Waktu tes OJK saya gagal waktu tes IQ, which is funny karena tes IQ biasanya satu-satunya hal yang tidak saya gagalkan. Tapi ya sudahlah, toh tidak mungkin juga menjadi konsultan politik atau strategic planner apabila saya kerja di OJK bukan? (Meskipun gajinya 12 juta sebulan hiks)

Di tahun 2014 saya lebih sering bertemu dengan teman-teman SMA & UGM karena satu demi satu mereka mulai berdatangan ke Jakarta. Plus teman baru dari Psikologi UI yang hang-outnya asyik melulu. Saya yang dulu paling hanya main ke game center kini mengunjungi Lucro, Seaworld (sebelum tutup permanen!), Agent X, Kota Tua, Jungleland dan lain-lain. Ini berbeda dengan tahun 2013 yang benar-benar sepi tanpa teman sama sekali kecuali teman kerja. Saya harap tahun 2015 ini kita bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk bertemu, karena kalau tidak dipaksakan ketemu pasti lama-lama menghilang sendiri-sendiri.

Terus apalagi ya? It's a nice year, but still seems to be wasted. Mulai tahun ini lebih serius deh.

Selasa, 23 Desember 2014

Manajemen Keuangan yang Perlu Kamu Terapkan di tahun 2015

Kurang dari dua minggu lagi, tahun 2014 akan resmi berakhir. Periode ujung tahun ini sebaiknya kita gunakan untuk mengevaluasi segala kekacauan yang kita lakukan di tahun 2014 dan merencanakan hal-hal yang perlu dilakukan agar pada tahun 2015 nanti kita bisa hidup dengan lebih teratur.

Salah satu aspek yang paling penting untuk dievaluasi adalah aspek finansial. Hal ini terutama jika Anda seperti saya, first jobber dengan 0-2 tahun pengalaman kerja yang belum cakap mengatur keuangan pribadi. Apabila Anda bertanya-tanya mengapa setiap akhir bulan selalu ada fase melarat, mengapa tabungan Anda belum juga naik digit dan mengapa dunia tidak lagi semudah masa-masa dikasih duit sama babeh, ada baiknya Anda membaca tulisan ini.

Dalam tulisan ini, saya akan berbagi daftar perencanaan keuangan yang perlu, bisa dan harus sudah Anda terapkan pada tahun 2015. Daftar ini diambil dari buku 100 Langkah untuk Tidak Miskin karya Ligwina Hananto. Silahkan catat!

1. Memisahkan Pengeluaran Bulanan dan Mingguan

Saat saya baru mulai bekerja, salah satu senior saya mengajarkan bahwa cara untuk berhemat adalah dengan hanya mengambil Rp 50.000,00 setiap bertandang ke ATM. Saya mempraktekan hal ini selama beberapa bulan tanpa hasil yang berarti, karena ternyata ketika nominal uang yang diambil saya batasi, frekuensi kunjungan ke ATM justru meningkat drastis. Hasilnya ya sama aja bohong. ._.

Akhirnya saya memutuskan untuk merencanakan pengeluaran dengan menggunakan langkah pertama dari Ligwina. Pengeluaran bulanan (kos, pulsa, dll) dan pengeluaran mingguan (makan, nongkrong, dll) saya daftar. Setelah semuanya terdaftar, saya lanjut ke langkah nomer dua.

 2. Pergi ke ATM Seminggu Sekali Saja

Ternyata daripada membatasi nominal yang ditarik, lebih efektif apabila kita membatasi kunjungan ke ATM. Karena kita sudah memisahkan pengeluaran bulanan dan pengeluaran mingguan, kita bisa tahu persis berapa jumlah yang perlu kita tarik setiap minggu. Sisanya hanya tinggal berkomitmen untuk tidak pergi ke ATM sebelum minggu ini habis. Dengan cara ini, sisa saldo di akhir bulan akan persis seperti yang kita rencanakan di awal.

3. Mengerti Cara Kerja Kartu Kredit

Yap, sebagai kelas menengah galau, hidup Anda akan lebih mudah dengan kartu kredit. Meski banyak bisik-bisik tentang bagaimana kartu kredit dapat menghancurkan hidup Anda, di tangan yang tepat kartu kredit dapat menjadi alat yang ampuh. Ada gadget terbaru dengan cicilan terjangkau dan bunga 0%? Gesek! Booking tiket dan hotel tanpa ribet? Gesek! Mudah, cepat dan berkhasiat.

Satu-satunya yang harus Anda lakukan adalah memahami cara kerja kartu kredit, yang membawa kita ke langkah keempat.

4. Pastikan Hutang Kartu Kredit Lunas Setiap Bulan

Kartu kredit memberi Anda keleluasan untuk membayar minimal 10% dari total tagihan setiap bulan. Meskipun fasilitas ini terdengar bagus, tapi disarankan untuk jangan pernah memanfaatkannya. Tagihan yang tidak langsung terlunasi akan dikenai bunga yang cukup tinggi (duh!) dan akan mengantar Anda langsung ke lilitan hutang yang tidak berujung.

Ketika Anda menggesek kartu kredit, pastikan Anda akan bisa melunasi tagihan kartu kredit tersebut. Apabila rasanya tidak mampu, jangan digunakan. Jika ingin mencicil, pastikan Anda mengambil paket cicilan dari store/produk (bukan dari kartu) yang tagihan setiap bulan serta bunganya jelas (banyak yang 0% loh).

Dalam spirit walk the talk, penulis akan mengakui bahwa penulis pun saat ini belum memegang kartu kredit. Tapi begitu berada dalam posisi yang stabil (fix tidak akan kuliah dulu untuk setahun kedepan) penulis akan segera mengambil kartu kredit (yang murah tentunya, karena tidak akan sering dipakai juga).

5. Membayar Pajak dan Melaporkan SPT

Biasanya pembayaran pajak ini diurus oleh kantor. Kita tinggal membuat (atau bisa dibuatkan kantor) Nomor Pokok Wajib Pajak. Udah bikin aja.

6. Mampu Membayarkan Semua Tagihan & Biaya Hidup Sendiri

Karena saya hidup sebatang kara di Jakarta, by default saya langsung membayar semua tagihan & biaya hidup sendiri sejak gaji pertama turun. Namun menurut Jakarta Post, saat ini ada tren baru dimana first jobber cenderung tetap tinggal bersama keluarganya karena biaya hidup yang mahal. Percaya tidak percaya, tetap tinggal di rumah orang tua justru memiliki dampak buruk seperti overestimation pendapatan, meningkatnya pengeluaran sporadis dan perasaan kurang uang berkepanjangan. Cara mengatasi ini, percaya tidak percaya, adalah mulai carry your own weight and pay your share of living. Bantu orang tua Anda untuk membayar pajak rumah, listrik, air, makan dan lain-lain.

7. Punya Dana Darurat Minimal Sebulan Gaji atau Sebulan Biaya Hidup

So when shit happens you're not completely naked. Tidak sulit. Begitu Anda terbiasa menabung 30% pendapatan, maksimal empat bulan sudah terkumpul.

8. Punya Fasilitas Kesehatan yang Cukup

BPJS atau asuransi swasta buat yang males ngantri di puskesmas. Biasanya dibuatkan oleh kantor tapi bisa juga buat sendiri/bersama keluarga untuk cadangan.

9. Mampu Beramal Minimal 2,5% dari Penghasilan Sebulan

Ya kira-kira satu loyang Pizza Hut dah.

10. Memiliki Rekening Belanja

Buat rekening baru (yang mentolerir saldo Rp 0,00) khusus untuk belanja. Setiap bulan, suntikan dana belanja Anda ke rekening ini. Jika rekening belanja sudah habis ya jangan belanja lagi. Hal ini membantu mengatur pengeluaran biaya gaya hidup terutama untuk yang suka belanja.

11. Mampu Menyisihkan 10% dari Penghasilan untuk Ditabung

10% doang men! Kalau ga kuat bisa jadi ente kebanyakan gaya.

12. Mampu Berlibur tanpa Hutang

Langkah terakhir untuk tahun 2015. Tentukan satu destinasi wisata impianmu dan berliburlah kesana tanpa hutang (dan tanpa meludeskan dana darurat serta tabungan). Jika tidak memiliki destinasi impian, trakirlah keluarga untuk liburan ke tempat yang dekat. Dufan, Transtudio, Arung Jeram atau Pulau Seribu. Go! 

Kamis, 11 Desember 2014

Belajar dari Mitsuhide: Manajemen Orang Pintar



Akechi Mitsuhide adalah salah satu pahlawan yang terkenal dari era Sengoku. Mitsuhide memiliki kecerdasan dan ilmu pedang tinggi yang membuatnya diangkat menjadi salah satu jendral paling penting di pasukan Oda Nobunaga. Ironisnya, hal yang membuatnya paling dikenang sejarah bukanlah prestasi-prestasinya yang gemilang, tetapi pemberontakannya pada tahun 1582 yang berujung pada kematian Oda Nobunaga.

Baik sebagai pahlawan maupun pengkhianat, kisah hidup Mitsuhide sangatlah menarik untuk dipelajari. Menurut novel Taiko karya Eiji Yoshikawa, Mitsuhide yang keturunan bangsawan sempat hidup menggelandang sebagai Ronin ketika gubernur yang Mitsuhide dukung tewas dikhianati oleh anaknya sendiri. Dalam periode ini, Mitsuhide menyambung hidup dengan mengajar dari desa ke desa. Beliau dibayar seadanya, sesuai dengan kemampuan petani-petani desa yang tidak begitu kaya.

Suatu hari, Mitsuhide mendapatkan kesempatan untuk mempertunjukkan pengetahuannya yang luas dalam masalah politik dan ilmu perang di depan Gubernur Provinsi Barat. Gubernur tersebut terkesan dengan keahlian Mitsuhide, tetapi dia menolak mempekerjakannya. Akhirnya Mitsuhide hanya diberi pakaian baru dan perbekalan, kemudian diminta kembali meneruskan perjalanannya.

Ketika sang Gubernur ditanya kenapa dia melepaskan orang dengan bakat seperti Mitsuhide, Gubernur tersebut menjawab dengan bijak, "Merak di antara ayam hanya akan menebar masalah." Artinya, apabila ia mempekerjakan Mitsuhide, dalam waktu singkat Mitsuhide akan melampaui perwira-perwiranya yang lain. Gubernur tersebut khawatir akan muncul rasa iri dan rasa permusuhan yang malah menghancurkan soliditas provinsinya.

Gubernur tersebut memang bijak. Seorang perwira yang menonjol sendirian, karena lebih cerdas baik dari sejawatnya maupun dari pemimpinnya kebanyakan hanya akan menimbulkan masalah. Butuh keahlian kepemimpinan yang tinggi untuk bisa mengelola seorang jenius sebagai anak buah. Beberapa contoh seperti Lu Bu, Yi Sun-Shin hingga Ahok dan Risma menunjukan apa yang terjadi ketika seekor Merak dipekerjakan diantara ayam. Sementara dari sisi Mitsuhide sendiri, kapasitasnya tidak akan terpenuhi secara maksimal ketika ia bekerja di sebuah sistem inferior dengan pemimpin yang lemah. Akibatnya akan muncul rasa ketidakpuasan yang berujung pada hal-hal buruk.

Ketika akhirnya Mitsuhide diangkat menjadi perwira Oda Nobunaga, ia bekerja dengan sesama merak seperti Shibata Katsue dan Totoyomi Hideyoshi sehingga tidak ada keirian besar yang terjadi. Selain itu, kepemimpinan Nobunaga yang memiliki visi kuat dan ambisi tinggi membuat Mitsuhide memiliki banyak kesempatan untuk memaksimalkan kapasitasnya. Di bawah sistem kepemimpinan Nobunaga, Mitsuhide menjadi perwira yang sangat efektif dalam memberi kontribusi yang sangat positif bagi organisasi. Sebagai penghargaan, Mitsuhide menjadi orang pertama yang diberi kepercayaan untuk menguasai sebuah benteng atas nama Nobunaga.

Kemesraan Mitsuhide-Nobunaga berlangsung lama dan berbuah manis. Namun ketika Nobunaga sudah menjadi kekuatan terbesar di Jepang, Mitsuhide justru melakukan pemberontakan yang mengejutkan seluruh Jepang. Mitsuhide bukanlah orang yang gila kekuasaan. Ia orang terhormat yang berbudi baik dan tahu nilai-nilai samurai. Kala itu semua orang bertanya, "kenapa dia bisa menurunkan derajatnya dan menjadi seorang pengkhianat?"

Catatan sejarah menunjukan ada beberapa kejadian yang menggiring Mitsuhide menjadi pengkhianat, yaitu:

1. Nobunaga pernah membuang peralatan makan berharga Mitsuhide ke kolam karena kecewa.
2. Nobunaga melanggar sebuah perjanjian damai yang menyebabkan ibu (atau bibi) Mitsuhide dibunuh.
3. Nobunaga pernah menendang Mitsuhide ketika Mitsuhide menyatakan kekagumannya pada lawan.
4. Nobunaga kerap menyebut Mitsuhide dengan panggilan hinaan 'kepala jeruk'.

Dilihat sekilas, empat tindakan Nobunaga diatas bukanlah kesalahan besar yang bisa merubah seseorang menjadi pengkhianat. Apalagi Nobunaga tidak pernah segan untuk memberikan imbalan besar baik secara finansial maupun secara emosional bagi Mitsuhide.

Satu-satunya kesalahan Nobunaga, apabila boleh disebut kesalahan, adalah gagal memahami karakter 'orang pintar' seperti Mitsuhide. Mitsuhide berbeda dengan Hideyoshi yang loyal dan rendah hati atau perwira-perwira lainnya yang berpikiran sederhana. Sebagai orang yang merasa pintar, lebih pintar dari Nobunaga, Mitsuhide perlu diapresiasi dengan perlakuan spesial dan rasa hormat. Hal ini dikarenakan Mitsuhide mungkin merasa kontribusinya pada kesuksesan Nobunaga lebih besar dibanding perwira lain. Selain itu, harga diri Mitsuhide bisa saja membuat dirinya berpikir bahwa Nobunaga lebih membutuhkan dirinya daripada dia sendiri membutuhkan Nobunaga. Meskipun Mitsuhide adalah orang yang terhormat, tapi kepintarannya dan keyakinan bahwa dia lebih pintar dari yang lain pasti melahirkan arogansi tersembunyi yang akan meledak apabila ditekan terus-menerus.

13 hari setelah pemberontakannya, Mitsuhide habis ditumpas Hideyoshi. Tetapi ada beberapa pelajaran dari kisah Mitsuhide yang bisa menjadi masukan bagi manajer-manajer di masa kini.

Pertama, mempekerjakan orang pintar tidak selalu baik bagi organisasi. Perhatikan kondisi organisasi Anda dan sumber daya manusia yang Anda miliki. Apabila orang pintar yang akan anda rekrut over-qualified, relakanlah dia pergi. Ini lebih baik untuk kemajuan organisasi secara jangka panjang.

Kedua, tantangan dan derajat kebebasan yang tinggi sangat diperlukan untuk membuat orang pintar selalu tertantang. Biarkan orang pintar mengambil inisiatif-inisiatif penting dalam organisasi. Dengan cara ini, kontribusi orang pintar terhadap organisasi bisa maksimal.

Ketiga, ciptakan kompetisi yang positif antara orang-orang pintar yang Anda pimpin. Biasanya orang pintar tidak menciut di hadapan kompetisi. Mereka juga tidak sensitif dan tidak membawa persaingan di organisasi menjadi persaingan pribadi.

Keempat, beri ruang untuk mengapresiasi harga diri mereka, tapi jangan biarkan arogansi mereka tumbuh. Berikan kesan bahwa mereka sangat penting, tapi mereka bukan orang paling penting dalam organisasi.

Demikian empat pelajaran tentang manajemen orang pintar yang bisa kita ambil dari Mitsuhide. Semoga tulisan ini membantu anda dalam merekrut dan mengatur orang-orang pintar. Selamat memimpin!

Sabtu, 08 November 2014

Intern Copywriter Needed


Milestone Integrated Marketing is offering an internship program for copywriter position. As a copywriter intern, you will work with me to write tactical communication kit such as -but not limited to- print advertisement, television commercial, branding collateral (tagline, brand statement, etc), marketing collateral (company profile, website, etc). Occasionally you will also assist in strategic planning development, so basic skill in market research and competitor research is necessary. 

If you are a,

1. Girl
2. Currently majoring in communication or related field
3. Aspire to be a copywriter
4. Has no difficulty in expressing idea and brainstorming
5. Has practical writing skills
6. Can commit 3-4 months as Milestone intern
7. Has a decent English

Please send your CV and portfolio to salman.firdaus@milestone.co.id and hrd@milestone.co.id

In Milestone you will earn a lot of practical experience in working with clients from various industry. Our work environment is fun but challenging. So don't hesitate to apply fellas!

You can read more about Milestone here, http://milestone.co.id/

Senin, 03 November 2014

Menjual Togua, Eh, Yogyakarta


Apartemen-apartemen baru terus berdiri di Yogyakarta. Salah satu diantaranya mampir ke mejaku hari Kamis yang lalu, meminta agar disusunkan strategi pemasaran ciamik agar seluruh unitnya kandas disikat investor berduit. Ini sebenarnya femonena yang lucu. Sampai tahun lalu, rata-rata pengembang properti masih sepakat bahwa Yogyakarta yang rentan gempa, gunung meletus dan tsunami tidak cocok untuk pembangunan apartemen. Hingga kemudian apartemen Mataram City dibangun dan laku keras, menginspirasi pengembang lain untuk ikut membangun apartemen/condotel. Asyiknya lagi, timing apartment-rush di Yogyakarta ini sangat tepat. Karena pada saat yang bersamaan, Yogyakarta sedang dijual.

Saya hidup di Yogyakarta selama empat tahun, dari tahun 2009 sampai tahun 2013. Kala itu, Yogyakarta masih sangat nyaman. Yang saya sempat saya saksikan hanyalah awal dari penjualan Yogyakarta. Seperti pembangunan hotel 'The Rich' (kudos for the best name ever) yang sepertinya lebih cocok ada di Dubai dibandingkan di Yogyakarta; munculnya billboard bertajuk studying can be fun yang mempromosikan apartemen Mataram City pada pelajar (if you need an apartment to make studying fun, go to UI); dan gonjang-ganjing kecil lainnya.

Seiring waktu berjalan, dibawah pimpinan walikota baru Haryadi Suyuti (satu-satunya cawalkot yang mendapatkan dukungan penuh keraton pada pilkada Yogyakarta lalu), Yogyakarta menjadi semakin sumpek. Beberapa masalah 'karya' Haryadi Suyuti adalah penataan ruang publik yang buruk; kawasan tepi sungai yang semakin tak terurus; menjamurnya pembangunan hotel yang membebani lingkungan kota; hingga banyaknya aktivitas seni budaya yang dihilangkan (Hilal, 2013). Dari sekian masalah ini, 'penjualan Yogyakarta' melalui pemberian izin berlebihan terhadap hotel dan apartemen adalah salah satu yang paling membuat geram masyarakat. Pasalnya, pembangunan hotel dan apartemen ini kerap merusak ekosistem, membuat permukaan air tanah turun dan mengakibatkan warga sekitar mengalami kekeringan. Selain itu, ia juga memunculkan dampak sosial berupa bertambahnya kesenjangan, kemacetan dan turisme yang unsustainable (later on this).

Menariknya tidak hanya kota Yogyakarta saja yang dijual. Di lingkup provinsi pun, Daerah Istimewa Yogyakarta is on sale. Di pesisir Kulon Progo, Keraton (pemerintah provinsi DIY) dan Bupati Kulon Progo sejak 2006 berusaha gigih untuk merebut kawasan pertanian sepanjang pesisir Kulon Progo (yang dilindungi oleh UU Agraria) dan merubahnya menjadi kawasan pertambangan pasir besi. Kasus yang paling terakhir dan paling hits adalah rencana keraton mengubah logo Yogyakarta menjadi Togua dalam sebuah transaksi fantastis senilai 1,5 miliar Rupiah! (more on this later) Hanya tuhan yang tahu berapa persen dari nilai tersebut yang jadi komisi untuk para 'penanggung jawab'.

Meski kritik dari pegiat seni terus mengalir deras, tidak ada tanda-tanda Yogyakarta akan mengubah langkah. Mungkin memang tidak ada kota menggairahkan yang bisa lepas dari cengkraman kapitalisme. Mungkin memang sudah suratan takdir bagi Yogyakarta untuk berakhir sebagai sapi perah manusia-manusia serakah. Mungkin memang sudah waktunya bagi romantisme klasik kota ini untuk usai. Para alumni Yogyakarta seperti saya mungkin hanya bisa menatap sedih dari jauh, sementara penduduk Yogyakarta mungkin hanya bisa tetap tunduk pada Keraton dan kepanjangan tangannya yang getol berjualan.


And the walls kept tumbling down
In the city that we love
Great clouds roll over the hills
Bringing darkness from above


But if you close your eyes,
Does it almost feel like
Nothing changed at all?
[Bastille - Pompeii]

Senin, 08 September 2014

Mencari Pengganti Sang Q5

Hari Sabtu, 6 September 2014, Blackberry Q5 saya dicopet di metromini 102 tepat ketika saya mencoba turun di Lebak Bulus. Pencopet tersebut berkawanan, kemungkinan bersekongkol dengan supir dan kenek metromini. Mereka beraksi terang-terangan, setiap ada penumpang yang hendak turun mereka akan memepet korban secara bergerombol dan merebut barang berharga mereka. Sebelum saya turun, saya melihat dua kali sang kawanan pencopet melakukan aksinya. Ketika saya dicopet, saya langsung menyadari hilangnya Blackberry Q5 saya dan segera mengkonfrontir orang-orang yang memepet saya ketika hendak turun. Sayang mereka bergerombol sehingga saya kesulitan mengidentifikasi keparat yang benar-benar mengambil Blackberry Q5 saya (seorang bapak yang saya duga anggota kawanan berulang kali mengatakan melihat pencopetnya sudah turun). Sialnya lagi di Lebak Bulus, tempat saya turun, belum ada polisi yang berjaga. Seandainya ada polisi ditempat itu (yang seharusnya memang ada), mungkin Blackberry Q5 saya bisa diselamatkan.

Sejujurnya bukan nilai materialnya yang membuat saya merasa cukup kehilangan. Blackberry Q5 ini saya beli dengan kombinasi uang hadiah sebuah lomba nasional, tabungan gaji dan tunjangan hari raya lebaran. Gadget mid-end baru pertama yang saya beli dengan uang sendiri setelah sebelumnya saya selalu menggunakan gadget turunan dari ayah atau beli second. Belum lagi Blackberry Q5 ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakter saya. Keyboard fisiknya yang canggih dan spesifikasinya yang memungkinkan manuver-manuver dinamis membuat saya sangat menikmati interaksi dengannya.

Dengan hilangnya Blackberry Q5 ini saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan,

1. Lebih berhati-hati dan menghapus sikap 'bencana tidak akan mengenai saya'
2. Lebih aktif membantu dan/atau melawan apabila ada orang yang diduga berencana melakukan kejahatan terhadap orang lain

Saat ini saya memegang Samsung Galaxy Chat milik seorang teman yang tidak terpakai. Meskipun saya merasa sangat berterimakasih atas pinjaman Samsung Galaxy Chat tersebut, tetapi smartphone ini mengingatkan saya akan betapa tidak cocoknya diri ini terhadap User Interface dari Android Samsung. Sebelum Samsung Galaxy Chat, saya sempat menggunakan Samsung Galaxy Mini turunan dari ayah saya. Tetapi saya sangat muak dengan smartphone tersebut sampai-sampai saya memilih Sony Erricson flip lama saya untuk penggunaan sehari-hari.

Kini ketidaksukaan saya terhadap User Interface Samsung menjadi lebih besar karena saya telah merasakan betapa mulusnya User Interface OS 10 Blackberry (I'll not go into the detail but trust me on the superiority of OS 10 BB UI). Artinya, ada baiknya saya mulai mencari pengganti sang Q5.

Budget yang bisa saya siapkan apabila saya membeli smartphone bulan ini adalah Rp 2.000.000. Dengan budget minimal ini, pilihan saya terbatas pada kategori lower-end. Beberapa pilihan yang muncul adalah Samsung Galaxy Grand, yang tidak akan saya pilih karena dia Samsung; LG Pro Lite yang cukup menggiurkan dengan harga Rp 2.200.000 dan spesifikasi yang canggih, tetapi UI-nya tidak jauh berbeda dengan Samsung; Blackberry Z3 yang juga menarik tetapi akan terasa sedikit 'turun kelas' setelah Blackberry Q5; Sony Xperia M yang desainnya cantik (sayang agak gemuk) dan sepertinya UI-nya lebih dapat diterima dibanding gadget keluaran Korea; Lenovo a706 yang desainnya clumsy tetapi spesifikasi dan UI-nya bersaing (untuk seekor Android); serta Zenfone, Asha & Iconia. Yang pasti UI berbasis Android tetap akan terasa 'menyakitkan' dan saya harus mengucapkan selamat tinggal pada keyboard ala Q5 yang memungkinkan saya menulis artikel-artikel pendek dalam perjalanan atau merevisi pekerjaan saat makan siang.

Saya tidak butuh kamera yang terlalu canggih dan memori internal yang terlalu banyak. Kualitas yang dicari adalah prosesor dan RAM yang cukup baik untuk bermanuver secara dinamis, UI yang bisa diterima dan desain eksterior yang cantik. Apa ya? Atau lebih baik menabung dulu sampai terkumpul setidaknya 3.000.000 agar bisa menjangkau yang sekelas Sony Xperia M2?

Decision, decision. 

Minggu, 31 Agustus 2014

Tinjauan-Tinjauan terhadap Kasus FS

Latar Belakang

Florence Sihombing (FS) adalah mahasiswa S2 Kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Pada tanggal 28 Agustus 2014, beliau mencoba menyerobot antrian pertamax di SPBU Lempuyangan tetapi tindakannya dihentikan aparat. FS kemudian melampiaskan kekesalannya di Path dengan menyebut bahwa orang Jogjakarta 'tolol, miskin dan tidak berbudaya'. Keluhannya ini kemudian tersebar dan memicu berbagai reaksi.

Tulisan ini mencoba untuk membeberkan fakta, tinjauan psikologis, tinjauan sosiologis dan tinjauan hukum atas kasus FS dan perkembangannya.

Isu-isu yang Berkembang

Kasus FS adalah kasus Path ofensif kedua yang tersebar. Sebelum FS, seorang wanita bernama Dinda juga mengalami hal yang sama akibat mengeluhkan tindakan seorang ibu hamil yang meminta tempat duduknya. Dalam kasus FS, selain gelombang bully ada juga gelombang anti-bully yang memperluas konteks wacana. Beberapa isu yang kemudian berkembang dari kasus FS adalah,

1. FS dan kebebasan berpendapat
2. FS dan repulsi masyarakat Jogjakarta terhadap pendatang
3. FS dan keluhan pendatang Jakarta atas kemacetan
4. FS dan proses hukum yang berjalan

Dalam tulisan ini, keempat isu akan dibahas secara singkat.

Tinjauan Psikologis

Florence Sihombing is a rich pretentious fuck. Dalam beberapa tulisannya yang tersebar kemudian, terlihat bahwa dia memiliki kejenuhan akut terhadap Jogjakarta dan perspektif yang sangat miring terhadap masyarakat Jogjakarta. Hal ini bisa disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah kebiasaannya menjadi manja dan menjadi gaul di kota asal yang tidak bisa berlanjut di Jogjakarta. Fenomena ini memang umum terlihat di mahasiswa pendatang meskipun derajatnya bervariasi dan biasanya hilang setelah si pendatang beradaptasi.

Tinjauan Sosiologis

Dari pengamatan penulis, ada perbedaan antara kasus FS dan kasus Dinda dalam hal kemunculan gelombang anti-bully. Dalam kasus Dinda, gelombang anti-bully baru muncul pada sekitar h+3 meledaknya isu. Itupun jumlahnya kecil dan karakternya spesifik. Sebaliknya dalam kasus FS gelombang anti-bully hampir muncul seketika setelah isu meledak. Argumentasi gelombang anti-bully berkisar pada 'dia kan cuma curhat' atau 'dia kan engga fitnah, orang Jogja emang banyak kok yang sesuai perkataan dia'.

Dari kecepatan munculnya gelombang anty-bully ini, kita bisa menyimpulkan bahwa arus utama lini masa media sosial beranggapan bahwa pelanggaran nilai moral Dinda lebih besar dari FS. Dalam kata lain, tidak memberikan tempat duduk pada ibu hamil dianggap lebih buruk daripada menghina satu provinsi sebagai 'tolol, miskin dan tidak berbudaya'. Ini menunjukan toleransi terhadap nilai-nilai 'pretentiousness' lebih besar dibanding toleransi terhadap 'selfishness'.

Seiring waktu, argumentasi yang dikembangkan oleh kelompok anti-bully semakin melebar. Ini terlihat dari lahirnya antitesis berupa 'hati masyarakat jogja sudah keras' dan 'masyarakat jogja keras terhadap pendatang' yang menggeser paradigma victim dari 'masyarakat jogja' ke 'Florence Sihombing'. Secara pribadi, penulis tidak menyetujui antitesis ini karena secara tidak langsung pemikiran tersebut mentoleransi nilai-nilai pretentiousness, mengabaikan masyarakat luar Jogja yang juga marah terhadap FS dan mendegradasi karakter masyarakat Jogjakarta secara tidak adil. Apabila ada badut yang masuk ke kamar Anda, mengencingi kasur Anda lalu Anda memarahinya, apakah adil bila Anda dikatakan 'tidak memiliki hati' dan 'keras terhadap badut'?

Pemikiran 'masyarakat Jogja keras terhadap pendatang' secara khusus memiliki dampak sistemik yang buruk. Pemikiran ini mengaburkan identitas Florence dari 'penyerobot antrian yang pretentious' menjadi 'seorang pendatang'. Masyarakat Jogja kemudian dianggap entitas rasis yang memarahi Florence karena dia 'orang luar', bukan karena dia menghina Jogjakarta. Pemikiran seperti ini bisa memecah keharmonisan Jogjakarta dan menumbuhkan prasangka tidak adil di hati para pendatang.

Antitesis lain yang relatif unik muncul adalah 'Apabila Florence dibully, bukankah pendatang Jakarta yang mengeluh atas kemacetan juga bisa dibully'. Pengikut pemikiran ini, menurut penulis, memiliki kesalahan deduksi akibat kegagalan membaca data. Florence melakukan kesalahan dengan menyerobot antrian spbu (x) lalu menghina masyarakat Jogjakarta secara pribadi dengan menggunakan kata tolol, miskin dan tidak berbudaya (y) maka dia dibully (z). Dalam kasus pendatang Jakarta yang mengeluh atas kemacetan, unsur kesalahan (x) dan hinaan pribadi (y) sama-sama tidak muncul sehigga bully (z) tentu tidak mungkin terlaksana.

Tinjauan Hukum

Perkembangan hukum kasus FS terhitung cepat dan mengejutkan. Dimulai ketika sebuah LSM (Jatisura) mengadukan FS dengan dasar hukum UU ITE. FS merespon dengan menyewa kuasa hukum tanpa mencoba upaya damai. Pihak kepolisian kemudian membawa kasus ini ke tahap penyidikan. Pada awalnya, banyak pihak yang menganggap FS tidak akan terkena hukuman pidana karena kesalahannya tidak diatur oleh UU ITE. Kenyataannya, polisi menetapkan status FS sebagai tersangka dan langsung menahan FS. Pihak kepolisian menyatakan bahwa FS ditahan karena tidak kooperatif serta kekhawatiran melarikan diri, mengulangi pidana dan menghilangkan barang bukti.

Ini berarti sifat pretentious FS sekali lagi menjerumuskannya. Seharusnya bila FS bertindak baik selama pemeriksaan, polisi tidak perlu menahannya karena yang berhak menentukan putusan dan hukuman adalah hakim saat pengadilan. Kenyataannya, FS berlaku sedemikian buruknya saat pemeriksaan hingga kepolisian terpaksa menahannya.

Menyambut keputusan ini, reaksi lini masa tercampur aduk. Meskipun secara teknis tindakan kepolisian tidak salah, ada kelompok arus utama lini masa yang menentang penahanan FS. Argumen kelompok penentang ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga grup dimana ketiganya tidak memiliki bobot logis yang cukup, yaitu:

1. 'Tidak seharusnya FS ditahan atas dasar UU ITE' - argumen ini salah karena FS ditahan karena dikhawatirkan mengganggu proses hukum dengan cara melarikan diri atau menghilangkan barang bukti, serta kekhawatiran FS akan mengulangi hinaannya terhadap masyarakat Jogjakarta dengan dampak sosial yang lebih buruk. Penahanan FS saat ini tidak ada kaitannya dengan UU ITE.

2. 'Banyak kasus lain yang lebih parah mengapa mengusut kasus FS' - argumen ini salah karena besar kecilnya kasus tidak berkaitan dengan kekebalan di muka hukum. Apa karena banyak pembunuhan, kasus pencurian tidak perlu diusut?

3. 'Kepolisian hanya sigap di kasus yang ngehits seperti ini' - menurut penulis argumen ini muncul karena beberapa golongan netizen hanya mengikuti kasus yang hits tapi tidak mengakses informasi kasus-kasus yang tidak ngehits. Sehingga generalisasi yang salah akibat tidak cukupnya data diambil.

Kesimpulan

Menurut hemat penulis, kemarahan masyarakat Jogjakarta terhadap FS dapat dijustifikasi dan penahanan FS telah sesuai dengan proses hukum. Penulis tidak membenci FS secara pribadi tetapi FS perlu mendapatkan konsekuensi agar nilai-nilai 'pretentiousness' tidak menyebar lebih jauh.