Kamis, 11 Desember 2014

Belajar dari Mitsuhide: Manajemen Orang Pintar



Akechi Mitsuhide adalah salah satu pahlawan yang terkenal dari era Sengoku. Mitsuhide memiliki kecerdasan dan ilmu pedang tinggi yang membuatnya diangkat menjadi salah satu jendral paling penting di pasukan Oda Nobunaga. Ironisnya, hal yang membuatnya paling dikenang sejarah bukanlah prestasi-prestasinya yang gemilang, tetapi pemberontakannya pada tahun 1582 yang berujung pada kematian Oda Nobunaga.

Baik sebagai pahlawan maupun pengkhianat, kisah hidup Mitsuhide sangatlah menarik untuk dipelajari. Menurut novel Taiko karya Eiji Yoshikawa, Mitsuhide yang keturunan bangsawan sempat hidup menggelandang sebagai Ronin ketika gubernur yang Mitsuhide dukung tewas dikhianati oleh anaknya sendiri. Dalam periode ini, Mitsuhide menyambung hidup dengan mengajar dari desa ke desa. Beliau dibayar seadanya, sesuai dengan kemampuan petani-petani desa yang tidak begitu kaya.

Suatu hari, Mitsuhide mendapatkan kesempatan untuk mempertunjukkan pengetahuannya yang luas dalam masalah politik dan ilmu perang di depan Gubernur Provinsi Barat. Gubernur tersebut terkesan dengan keahlian Mitsuhide, tetapi dia menolak mempekerjakannya. Akhirnya Mitsuhide hanya diberi pakaian baru dan perbekalan, kemudian diminta kembali meneruskan perjalanannya.

Ketika sang Gubernur ditanya kenapa dia melepaskan orang dengan bakat seperti Mitsuhide, Gubernur tersebut menjawab dengan bijak, "Merak di antara ayam hanya akan menebar masalah." Artinya, apabila ia mempekerjakan Mitsuhide, dalam waktu singkat Mitsuhide akan melampaui perwira-perwiranya yang lain. Gubernur tersebut khawatir akan muncul rasa iri dan rasa permusuhan yang malah menghancurkan soliditas provinsinya.

Gubernur tersebut memang bijak. Seorang perwira yang menonjol sendirian, karena lebih cerdas baik dari sejawatnya maupun dari pemimpinnya kebanyakan hanya akan menimbulkan masalah. Butuh keahlian kepemimpinan yang tinggi untuk bisa mengelola seorang jenius sebagai anak buah. Beberapa contoh seperti Lu Bu, Yi Sun-Shin hingga Ahok dan Risma menunjukan apa yang terjadi ketika seekor Merak dipekerjakan diantara ayam. Sementara dari sisi Mitsuhide sendiri, kapasitasnya tidak akan terpenuhi secara maksimal ketika ia bekerja di sebuah sistem inferior dengan pemimpin yang lemah. Akibatnya akan muncul rasa ketidakpuasan yang berujung pada hal-hal buruk.

Ketika akhirnya Mitsuhide diangkat menjadi perwira Oda Nobunaga, ia bekerja dengan sesama merak seperti Shibata Katsue dan Totoyomi Hideyoshi sehingga tidak ada keirian besar yang terjadi. Selain itu, kepemimpinan Nobunaga yang memiliki visi kuat dan ambisi tinggi membuat Mitsuhide memiliki banyak kesempatan untuk memaksimalkan kapasitasnya. Di bawah sistem kepemimpinan Nobunaga, Mitsuhide menjadi perwira yang sangat efektif dalam memberi kontribusi yang sangat positif bagi organisasi. Sebagai penghargaan, Mitsuhide menjadi orang pertama yang diberi kepercayaan untuk menguasai sebuah benteng atas nama Nobunaga.

Kemesraan Mitsuhide-Nobunaga berlangsung lama dan berbuah manis. Namun ketika Nobunaga sudah menjadi kekuatan terbesar di Jepang, Mitsuhide justru melakukan pemberontakan yang mengejutkan seluruh Jepang. Mitsuhide bukanlah orang yang gila kekuasaan. Ia orang terhormat yang berbudi baik dan tahu nilai-nilai samurai. Kala itu semua orang bertanya, "kenapa dia bisa menurunkan derajatnya dan menjadi seorang pengkhianat?"

Catatan sejarah menunjukan ada beberapa kejadian yang menggiring Mitsuhide menjadi pengkhianat, yaitu:

1. Nobunaga pernah membuang peralatan makan berharga Mitsuhide ke kolam karena kecewa.
2. Nobunaga melanggar sebuah perjanjian damai yang menyebabkan ibu (atau bibi) Mitsuhide dibunuh.
3. Nobunaga pernah menendang Mitsuhide ketika Mitsuhide menyatakan kekagumannya pada lawan.
4. Nobunaga kerap menyebut Mitsuhide dengan panggilan hinaan 'kepala jeruk'.

Dilihat sekilas, empat tindakan Nobunaga diatas bukanlah kesalahan besar yang bisa merubah seseorang menjadi pengkhianat. Apalagi Nobunaga tidak pernah segan untuk memberikan imbalan besar baik secara finansial maupun secara emosional bagi Mitsuhide.

Satu-satunya kesalahan Nobunaga, apabila boleh disebut kesalahan, adalah gagal memahami karakter 'orang pintar' seperti Mitsuhide. Mitsuhide berbeda dengan Hideyoshi yang loyal dan rendah hati atau perwira-perwira lainnya yang berpikiran sederhana. Sebagai orang yang merasa pintar, lebih pintar dari Nobunaga, Mitsuhide perlu diapresiasi dengan perlakuan spesial dan rasa hormat. Hal ini dikarenakan Mitsuhide mungkin merasa kontribusinya pada kesuksesan Nobunaga lebih besar dibanding perwira lain. Selain itu, harga diri Mitsuhide bisa saja membuat dirinya berpikir bahwa Nobunaga lebih membutuhkan dirinya daripada dia sendiri membutuhkan Nobunaga. Meskipun Mitsuhide adalah orang yang terhormat, tapi kepintarannya dan keyakinan bahwa dia lebih pintar dari yang lain pasti melahirkan arogansi tersembunyi yang akan meledak apabila ditekan terus-menerus.

13 hari setelah pemberontakannya, Mitsuhide habis ditumpas Hideyoshi. Tetapi ada beberapa pelajaran dari kisah Mitsuhide yang bisa menjadi masukan bagi manajer-manajer di masa kini.

Pertama, mempekerjakan orang pintar tidak selalu baik bagi organisasi. Perhatikan kondisi organisasi Anda dan sumber daya manusia yang Anda miliki. Apabila orang pintar yang akan anda rekrut over-qualified, relakanlah dia pergi. Ini lebih baik untuk kemajuan organisasi secara jangka panjang.

Kedua, tantangan dan derajat kebebasan yang tinggi sangat diperlukan untuk membuat orang pintar selalu tertantang. Biarkan orang pintar mengambil inisiatif-inisiatif penting dalam organisasi. Dengan cara ini, kontribusi orang pintar terhadap organisasi bisa maksimal.

Ketiga, ciptakan kompetisi yang positif antara orang-orang pintar yang Anda pimpin. Biasanya orang pintar tidak menciut di hadapan kompetisi. Mereka juga tidak sensitif dan tidak membawa persaingan di organisasi menjadi persaingan pribadi.

Keempat, beri ruang untuk mengapresiasi harga diri mereka, tapi jangan biarkan arogansi mereka tumbuh. Berikan kesan bahwa mereka sangat penting, tapi mereka bukan orang paling penting dalam organisasi.

Demikian empat pelajaran tentang manajemen orang pintar yang bisa kita ambil dari Mitsuhide. Semoga tulisan ini membantu anda dalam merekrut dan mengatur orang-orang pintar. Selamat memimpin!

Tidak ada komentar: