Senin, 01 Februari 2016

Feel Alive Yet?

Sekali lagi aku mengedarkan pandanganku, menikmati pernak-pernik berbau Tionghoa yang tersusun apik menghiasi restoran ini. Kekasihku berkali-kali mengutarakan keinginannya untuk mencoba tempat ini, tetapi belum pernah sekalipun keinginannya terpenuhi.

Pandanganku berhenti di gadis yang berada di sebelahku. Dia terlihat mengamati menu dengan serius, penuh tekad untuk menciptakan efisiensi Pareto antara harga dengan kenikmatan demi membuatku terkesan.

Seperti yang selalu ia lakukan sejak detik pertama aku melihatnya.

Rabu, 21 Oktober 2015

Tak Berdaya Melawan Start-Up: Alasan Bisnis Konvensional Selalu Kalah


Traveloka, Air B&B, Gojek, Lazada. Empat perusahaan start-up ini dapat dijuluki distruptive bussiness karena, selain memperkenalkan model bisnis baru yang digilai konsumen, mereka juga menggulung tatanan bisnis konvensional yang ada sebelumnya. Traveloka menggoyang bisnis travel agent di seluruh negeri; Air B&B dan Gojek membuat industri hotel dan transportasi dalam kota ketar-ketir; dan Lazada membantu membuat pusat perbelanjaan IT seperti Mangga Dua nyaris mati. Fenomena ini terbilang mengagumkan karena yang diganggu oleh bisnis-bisnis distruptif ini bukan hanya pemain kecil; pemimpin-pemimpin pasar yang selama beberapa dekade terakhir merajai hati konsumen pun seakan tidak berdaya menghadap para perusahaan start-up ini.

Fenomena ini tentu membuat kita bertanya-tanya. Apakah sih yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan start-up ini sehingga mereka begitu digdaya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dipahami bahwa ada tiga elemen utama yang menentukan kualitas suatu organisasi perusahaan. Tiga elemen tersebut adalah sumber daya, proses dan nilai. Sumber daya adalah aset yang dimiliki perusahaan seperti pekerja, teknologi, modal dan lain-lain. Proses adalah alur kerja baik formal seperti prosedur operasi standar maupun informal seperti pola komunikasi antar individu dan pola pengambilan keputusan. Terakhir, nilai dapat didefinisikan sebagai serangkaian sistem kepercayaan yang menentukan tingkat prioritas berbagai aspek dalam organisasi (misalnya ketika ada perbedaan pendapat, apakah lebih penting menjaga perasaan lawan atau memenangkan argumen? dll.). Di lapangan, perusahaan konvensional cenderung memiliki sumber daya yang lebih baik dibandingkan dengan start-up di awal. Tetapi proses dan nilai organisasi mereka tidak cocok dengan lingkungan bisnis era digital. Karena itulah di berbagai sektor bisnis perusahaan start-up dapat mengalahkan perusahaan konvensional dengan relatif mudah.

Mari kita ambil Traveloka sebagai contoh. Saat Traveloka memasuki bisnis online travel agent (OTA), start-up ini harus menghadapi perusahaan travel berskala nasional seperti Dwidaya Tour. Dwidaya Tour sendiri memiliki sumber daya yang cukup untuk membuat dan menjalankan bisnis OTA. Bahkan Dwidaya Tour lebih dulu memasuki bisnis OTA dengan mendirikan Ezytravel pada tahun 2008 –yang ditutup pada tahun 2009 sebelum dibuka kembali pada tahun 2011; jauh sebelum Traveloka berdiri di tahun 2012. Meski memiliki keunggulan sumber daya dan jaringan, tetapi elemen proses dan nilai Ezytravel yang kebanyakan masih diturunkan dari bisnis travel konvensional ala Dwidaya Tour membuatnya tampak kikuk ketika dibandingkan dengan Traveloka. Secara proses, Traveloka yang konsisten berevolusi untuk menciptakan user interface terbaik bagi konsumen (termasuk mobile apps) serta melakukan pemasaran melalui kombinasi media digital dan konvensional membuat Ezytravel keteteran. Secara nilai, Ezytravel yang terpaku nilai travel agent konvensional masih memprioritaskan promo murah sebagai ujung tombak pemasarannya; sementara Traveloka dengan leluasa mengeksplorasi aspek kecepatan, transparansi harga bahkan aspek emosional yang ternyata cukup diapresiasi konsumen Indonesia. Karena itulah Traveloka sekarang memimpin bisnis OTA sementara Ezytravel masih berjuang untuk merebut sisa-sisa market share.

Masih banyak contoh lain yang dapat diangkat seperti bagaimana Gojek merevolusi bisnis transportasi perkotaan dengan aplikasi smartphone meskipun perusahaan taksi Blue Bird telah meluncurkan aplikasi sejak tahun 2011. Intinya adalah, jika Anda ingin perusahaan konvensional Anda memiliki kesempatan dalam bersaing dengan perusahaan start-up, ciptakanlah proses dan nilai organisasi yang sesuai dengan lingkungan bisnis era digital.

Minggu, 27 September 2015

Krisis Ekonomi dan Manajemen Bisnis Berkelanjutan

 

Dengan semakin mendekatnya nilai Dollar Amerika ke titik psikologis Rp 15.000, bayang-bayang krisis semakin terasa mendekati kita. Dalam waktu dekat -jika tren ini berlanjut- PHK besar-besaran akan terjadi, harga barang-barang akan semakin melonjak dan satu demi satu lembaga perbankan akan ambruk dengan tidak elegan. Singkatnya, krisis ekonomi akan membawa banyak sekali penderitaan. Tapi tahukah Anda bahwa krisis juga memberi ruang untuk bisnis yang lebih berkelanjutan (sustainable)?

Krisis ekonomi bagi perusahaan dapat diibaratkan seperti wabah pes di abad pertengahan. Mereka membunuh orang-orang yang lebih lemah dan menyisakan orang-orang yang lebih kuat, lebih bersih dan lebih beruntung. Dalam konteks bisnis, perusahaan-perusahaan dengan manajemen yang buruk akan tumbang sementara perusahaan dengan manajemen yang lebih baik akan bertahan. Perusahaan baik kemudian akan tumbuh lebih besar mengisi ruang-ruang yang ditinggalkan oleh perusahaan buruk; menciptakan lingkungan bisnis lebih baik yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menariknya, definisi manajemen yang baik ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Norma bisnis modern yang dikarakterisasikan dengan profesionalisme, strukturisasi dan tanggung jawab terhadap pemegang saham justru lebih tidak tahan krisis. Profesionalisme membuat hubungan perusahaan dengan stakeholder semata bersifat teknis dan praktis -tanpa komitmen dan kepercayaan jangka panjang; strukturisasi membuat pengambilan keputusan lebih lama dan lebih tidak fleksibel; sementara tanggung jawab terhadap pemegang saham membuat perusahaan mengejar keuntungan jangka pendek yang lebih mudah terlihat dan lebih cepat memuaskan para pemegang saham. Ketika krisis menerpa, tiga hal ini menjadi kunci ketidakberlanjutan yang dijamin akan membunuh perusahaan dengan efisien.

Lalu manajemen bisnis seperti apa yang berkelanjutan? Perusahaan seperti apa yang akan tumbuh sementara perusahaan-perusahaan lain tumbang? Hasil survey konsultan bisnis global PwC pada tahun 2012 menunjukan hasil yang mengejutkan: perusahaan keluarga adalah model manajemen tahan krisis yang menjadi kunci keberlanjutan bisnis di abad 21 (artikel lengkap dapat dibaca di sini). Perusahaan keluarga sendiri pernah menjadi fenomena di tahun 1970-1980an ketika perusahaan-perusahaan keluarga dari Asia Timur tumbuh pesat di level internasional. Namun sejak saat itu model perusahaan keluarga dianggap ketinggalan jaman dan perusahaan-perusahaan didorong untuk mengadopsi sistem manajemen modern yang 'profesional' dan 'efisien'. Sungguh ironis melihat keadaan telah berbalik!

Rahasia dibalik ketahanan model manajemen perusahaan keluarga terhadap krisis dapat dikerucutkan menjadi tiga hal utama yang merupakan kebalikan dari karakter perusahaan modern, yaitu:
 
1. Hubungan Berbasis Kepercayaan

Manajemen modern memandang pegawai, penyuplai bahan baku dan distributor sebagai roda gigi yang membuat bisnis berjalan. Sebaliknya, perusahaan keluarga membangun hubungan dengan seluruh stakeholder-nya secara personal. Pendekatan ini menimbulkan kepercayaan, komitmen dan loyalitas; tiga modal penting saat krisis menerpa.

2. Kecepatan Pengambilan Keputusan

Saat krisis, pemimpin perusahaan keluarga dapat secara fleksibel mengambil kontrol dan mengendalikan perusahaan agar bergerak menjauhi badai. Keistimewaan ini tidak dimiliki oleh perusahaan 'modern' dengan struktur-strukturnya yang kaku. Ketika perusahaan keluarga tengah melesat melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap krisis, dewan direksi perusahaan 'modern' mungkin masih melakukan meeting-meeting panjang yang hasilnya tidak konklusif.

3. Perspektif Jangka Panjang

Tanpa pemegang saham yang meminta untuk segera dipuaskan, perusahaan keluarga dapat berinvestasi dalam aspek-aspek jangka panjang. Misalnya apabila perusahaan masih mengimpor bahan baku, manajemen dapat mengakuisisi sektor hulu sehingga ketergantungan terhadap impor berkurang. Bagi pemegang saham proses akuisisi ini kurang menarik karena biayanya besar dan keuntungannya sedikit; tetapi ketika nilai Dollar naik menembus atap, berkurangnya ketergantungan terhadap impor dapat menjadi faktor penentu keselamatan perusahaan.

Begitulah. Model manajemen perusahaan keluarga menawarkan perspektif yang berbeda -bahkan berkebalikan, dari model manajemen modern. Dengan bayangan krisis yang terus menggedor pintu, inilah saat yang tepat untuk meninjau perspektif perusahaan dan melakukan beberapa perubahan demi keberlanjutan.

Rabu, 09 September 2015

Emosi dan Pengambilan Keputusan


Saat Irlandia mengalami kelaparan besar-besaran pada tahun 1845-1542, Pemerintahan Inggris mengirimkan pejabat-pejabat secara silih berganti untuk mengatasi krisis tersebut. Kebanyakan pejabat tersebut akhirnya gagal, tapi ada satu pejabat yang menonjol karena kesuksesan serta metodenya yang unik. Pejabat tesrebut secara konsisten menolak untuk melakukan peninjauan lapangan dan lebih memilih bekerja dari mejanya. Alasannya sederhana, pejabat tersebut tidak ingin emosinya terlibat. Ia tahu apabila ia melakukan peninjauan lapangan, hatinya akan terenyuh oleh kondisi orang-orang yang kelaparan dan Ia akan membuat keputusan-keputusan bodoh karena terpengaruh emosi.

Kaitan antara emosi dan pengambilan keputusan memang menarik. Di satu sisi, emosi adalah pemicu pengambilan keputusan yang paling efektif. Di sisi lain, emosi bukanlah dasar pengambilan keputusan yang bijak. Hal ini sudah disadari manusia sejak lama, salah satunya oleh Aristoteles yang dalam kajian retorika-nya mengklasifikasikan berbagai ‘jalur’ emosi seperti rasa marah, sedih, takut dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan persuasi secara efektif; sambil memperingatkan bahwa jalur persuasi yang baik dan ‘terhormat’ tetaplah melalui logika.

Dahsyatnya pengaruh emosi terhadap pengambilan keputusan kembali terbukti saat foto Aylan yang terbujur kaku di tepian pantai Turki beredar luas. Aylan adalah pengungsi perang saudara di Suriah yang sedang berusaha mencari suaka secara ilegal di Eropa. Sontak, gelombang kesedihan, kemarahan dan rasa frustasi masyarakat internasional menggelegak; mendorong Uni Eropa untuk menampung lebih banyak pengungsi dan melonggarkan standar penerimaan pengungsi. Tuntutan ini dikabulkan hampir segera oleh pemerintah banyak negara.

Keputusan untuk menampung lebih banyak pengungsi ini sejatinya tidak bijak karena ia tidak berdasarkan data/statistik atau berdasarkan logika (detail bisa didiskusikan lebih lanjut/diriset secara terpisah). Pertama, gelombang pengungsi dari Suriah (dan orang-orang yang tewas tenggelam di perjalanan) sudah ada sejak empat tahun yang lalu dan Uni Eropa secara sistematis dan terukur sudah menampung pengungsi; tidak ada alasan valid untuk tiba-tiba meningkatkan pengungsi yang diterima secara sembrono. Kedua, sumber masalah ada pada konflik di Suriah sehingga energi masyarakat internasional seharusnya difokuskan untuk menyelesaikan konflik; bukan menampung pengungsi yang jumlahnya tidak akan habis selama konflik masih ada. Ketiga, masalah pengungsi tidak selesai begitu mereka sampai di Eropa; gegar budaya dan kurangnya keahlian pengungsi justru akan membawa masalah dalam jangka panjang.

Jika mengacu pada Elaborate Likehood Model, emosi melakukan persuasi melalui rute pheripheral (secara literal berarti ‘kurang penting’). Rute pheriperal lebih efektif melakukan persuasi karena informasi yang melalui rute ini tidak dipikirkan secara matang-matang. Namun, perubahan sikap atau pengambilan keputusan yang dihasilkan rute pheripheral bersifat sementara, mudah berubah dan tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, diperkirakan setelah segala emosi mereda, pemerintah yang terkait serta masyarakat internasional akan kembali kepada sikap awal mereka sebelum foto Aylan beredar –for better of worse.


Begitulah; seandainya fotografer tidak mengambil foto Aylan atau Aylan tidak terdampar di pantai dengan posisi yang begitu menyentuh, maka Aylan hanya akan menjadi satu lagi angka yang tidak signifikan dalam catatan statistik. Ironisnya, justru statistik inilah yang lebih bijak digunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan.

Kamis, 16 April 2015

Go Talk to 100 Women



Do you want to be successful?

According to my humble experience, there are two ways one can gain success in career.

First, be good at strategy instead of tactic. It's good if you can draw, count, or talk, but you will gain much more if you are able to put purpose and result as context on those skills.

Second, be good at communication. This is the subject that I'd like to elaborate on this writing.

The key of excellent communication lies on confidence and attractiveness. As simple as it may sound, these characteristics are very hard to achieve by those who are simply not born with it (I overstretched this statement a little bit, both nurture and nature have significant influence in shaping this 'natural talent'). Some people are so good, they can deliver eloquent presentation without the tiniest bit of preparation. Others who are not so lucky can spend one year preparing only to crash and burn when the occasion arrives.

I wouldn't have to ramble on to prove the importance of communication as leverage for one's career. What the reader should understand is, whether it is an important presentation in front of high management or a simple remarks on a brainstorming session, communication can only be successful if it connects the speaker and the target. And in order to establish connection, one must posses confidence first to initiate contact then attractiveness to retain the target attention. Just to be clear on this, what I meant by attractiveness is not as simple as physical attractiveness. It might be best defined as certain persona that basically attract other people in whatever means necessary.

Learning these two traits, confidence and attractiveness, can be a little bit tricky since it is not skill that one can simply practice in order to be good. Confidence is rooted on one's thought, attitude and action. It begin with one's thought about oneself and how others see him/her. Then it proceed toward one's attitude/feeling. Lastly, these thoughts and attitude will seep through action. If the action is met by positive reinforcement (appreciated, admired, etc), the thoughts and attitude behind it will be reinforced over and over again.

With this understanding in mind, how, then, can one increase one's confidence?

Well, first route, one can change his thoughts and feelings. This, however, are easier said (or written) than done.

The more radical route, and only the bold or desperate will try this, is to change your action.

Albert Ellis once try this method. To overcome his anxiety, he force himself to talk to 100 women. Asking them for a date. In the end, Ellis didn't get a date at all, but his anxiety is largely reduced while his confidence soar.

This is largely thanks to cognitive consonance mechanism every individual has on their brain. We have a very basic tendency to align our thought, feeling, and action. Whenever there's disparity on these three aspects, one will feel very uncomfortable. The most beautiful thing is, it is easier for thought and feeling to realign with action that it is for action to realign with thought and feeling. So when one start to act confidence, one will feel very uncomfortable at first but then one's thought and feeling will realign themselves to suit the action. That's why Ellis method is so successful.

So if you are having trouble with communication due to severe lack of confidence, this is what you should do: go talk with 100 women stranger (or men, if you're a woman, but there's no evidence it will work as good). Don't be afraid, you've got nothing to lose except your lack of confidence.

That's all about the shortcut to manifest confidence. Attractiveness, will be the subject for another time.

Good luck, gentlemen.