Sabtu, 17 Juni 2017

The Only Moral Thing is to Win


Ahok, sampai derajat tertentu, adalah simbol pencerahan bagi (setidaknya 40%) warga Jakarta. Sebagai minoritas ganda (non-muslim dan keturunan Tionghoa) kebangkitan Ahok adalah kebangkitan toleransi dan pluralisme. Sebagai birokrat yang efektif, Ahok adalah salah satu pionir langka yang merevolusi pemerintahan di Indonesia. Sebagai figur yang transparan, Ahok adalah cahaya harapan di tengah kanker korupsi yang menggerogoti anggaran. Dan sebagai kutu loncat yang populer, Ahok menandakan matinya pengaruh partai dan bangkitnya kepercayaan rakyat akan tokoh.

Tapi Ahok kalah. Dan bukannya menyebarkan nilai-nilai pencerahan yang telah dijabarkan, sekarang dia duduk di penjara.

Hal ini menunjukan bahwa, tidak peduli semulia apapun nilai yang kita bawa, semua itu percuma jika kita tidak bisa memenangkan posisi untuk menyebarkan nilai-nilai tersebut. Victory comes before moral. Lebih dari itu, the only moral thing is to win.

Kisah Ahok ini mau tidak mau mengingatkan saya pada kisah Arjuna.

Di tengah duel sengit antara Arjuna dan Karna, kereta kuda Karna terperosok. Dengan panik Karna berteriak "Time Out!" sambil turun dari kereta kuda untuk membetulkan rodanya.

Ini adalah kesempatan emas bagi Arjuna untuk memanah Karna, tapi sifat ksatria Arjuna membuatnya enggan membunuh musuh yang sedang dalam posisi tidak bisa membalas atau menghindar. Di titik inilah Kresna, yang menjadi kusir kereta kuda Arjuna, mengatakan satu hal yang akan diulang Machiavelli sekitar 3.000 tahun kemudian.

"Arjuna, the end justifies the means."

Arjuna melepas panahnya dan Karna tewas.

Kampanye Ahok, entah karena tidak bisa atau tidak mau, tidak melepas panahnya.

Sampai titik terakhir, dimana Kampanye Ahok dan Kampanye Anis mengeluarkan iklan pamungkasnya, pesan yang disampaikan kampanye Ahok adalah "nilai moral yang kami pegang lebih superior dari kalian,".

Mungkin itu memang betul, tapi yang dihitung dalam pemilu kan suara, bukan kekuatan nilai moral.

Nah, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kritik terhadap Ahok atau kampanye-nya. Tapi sebagai refleksi untuk kita semua: jangan sampai nilai moral yang kita pegang membuat kita kalah, karena seadainya kita kalah maka nilai moral itu akan mati juga. Kemenangan harus diprioritaskan di atas moral.

Pertanyaan selanjutnya,

Bagaimana kita tahu bahwa nilai moral yang kita pegang adalah yang benar? 

Sabtu, 27 Mei 2017

Green Canyon, Ngarai Hijau tanpa Nilai Merah

Dok: Eli

Selama dua belas jam, kami duduk berdesakan di sebuah minibus berukuran sedang. Jalan terus berkelok dan semakin lama semakin mengecil, tapi hanya sedikit sekali jalan rusak. Saat kami tiba di meeting point untuk Body Rafting, dari dua puluh penumpang, hanya satu yang mengalami mual cukup parah. Hal ini membuat kami agak lupa bahwa kami sedang menyusuri wilayah pedalaman Jawa Barat, dimana jalan rusak biasanya lebih merupakan norma daripada pengecualian.

Meeting point itu berupa sebuah lapangan yang tidak terlalu luas, yang disesaki oleh mobil bak, minibus, hingga bus besar yang sedang parkir. Suasana tidak terlalu riuh, tapi disana-sini berbagai kelompok kecil yang terpisah terlihat sibuk mempersiapkan diri untuk melakukan body rafting seperti kami. Disini, kami disambut oleh sarapan nasi goreng dan teh manis yang disajikan di sebuah warung makan kecil. Kami diharapkan tiba pukul tujuh, sementara saat itu sudah jam sembilan. Tak ayal nasi goreng kami sudah dingin. Tapi setelah dua belas jam kelaparan dan kedinginan di perjalanan, nasi goreng itu terasa cukup lezat.

Saya sendiri pernah kesini sebelumnya. Sepuluh tahun yang lalu, saat Aher memenangkan kursi gubernur Jawa Barat. Salah seorang petinggi di kantor orang tua saya merupakan bagian dari tim sukses Aher dan dia merayakan kemenangannya dengan menyewa dua bus ke Pangandaran. Kala itu, Green Canyon adalah sajian sampingan, sementara pantai Pangandaran adalah menu utamanya. Di Green Canyon, kita hanya bisa menyewa perahu untuk menyusuri sungai hingga berlabuh di mulut sebuah gua. Pemandangannya indah, tapi pengalamannya tidak istimewa. Sepuluh tahun kemudian, sungguh menakjubkan bagaimana Green Canyon telah berubah.

Setelah makan, kami dibagikan perlengkapan keselamatan seperti pelampung, helm, sepatu khusus dan karet untuk mengikat kacamata. Lalu kami naik di mobil bak dan dikirim ke sebuah titik yang lebih tinggi. Dari titik ini, kami berjalan sekitar 15 menit ke bibir sungai. Di belakang kami, ada mulut gua yang cukup besar. Penduduk lokal menyebutnya gua bau, karena gua ini merupakan tempat tinggal ribuan kelelawar yang dari tahun ke tahun melapisi lantai gua dengan kotoran mereka. Untungnya, baunya tidak sampai ke mulut gua. Di depan gua ini, para pemandu sekali lagi menjelaskan tata tertib serta paduan keamanan. Seperti biasa, salah satu aturan keras adalah dilarang menyepelekan atau merendahkan alam meskipun hanya bercanda. Kami paham. Bagaimanapun, pernah ada wisatawan yang meninggal di daerah ini. Kewaspadaan harus selalu diutamakan. Lalu kami diberi pilihan. Mau masuk ke sungai lewat tepian, atau loncat dari tebing setinggi 3 meter?

Dok: Eli

Saya jarang melakukan riset saat hendak liburan. Prinsipnya, semakin sedikit yang saya tahu sebelum berangkat, semakin banyak yang saya alami saat di tempat. Bahkan saat saya melompat dari tebing, saya masih tidak tahu apa sebenarnya yang ditawarkan oleh body rafting. Gambaran saya adalah perjalanan yang sama persis dengan sepuluh tahun yang lalu, tapi tanpa perahu. Benak dan tubuh saya mengharapkan sebuah perjalanan yang tenang dan damai, dimana arus-lah yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan. Namun, saat arus terasa semakin deras, membawa tubuh-tubuh berpelampung kami melalui rute yang akan kami tempuh, barulah saya sadar betapa salahnya anggapan ini.

Ektrim tapi aman. Penuh resiko mematikan, tetapi masih dapat dilalui oleh anak berumur 6 tahun (dengan bantuan). Itulah kiranya gambaran yang tepat untuk perjalanan body rafting ini. Selama empat jam, kami dibawa menghadapi jeram-jeram deras dimana kualitas helm kami benar-benar diuji. Lalu saat jeramnya terlalu deras dan bebatuannya terlalu ceram, kami diarahkan keluar sungai untuk merayap di ngarai-ngarai tepian sungai. Ditengah-tengah, ada beberapa tebing tempat melompat. Dari yang setinggi tiga meter seperti diawal, hingga tebing setinggi tujuh meter yang mengharuskan kami untuk berlari sebelum meloncat untuk menghindari bibir tebing yang menonjol. Sebelum setiap titik yang agak sulit, para pemandu selalu memberikan tips tentang apa yang harus dilakukan. Lucunya, apabila salah satu dari kami gagal mengikuti instruksi secara sempurna dan menabrak bebatuan, maka para pemandu itu akan meringis bersama kami yang dibelakang sambil bergumam, "itu sakit pasti,".

Semakin jauh kami bertualang, semakin terasa betapa hebatnya para arsitek di balik paket body rafting ini. Dari dua anak sungai berbentuk ngarai yang mengalir di wilayah pedalaman, saya membayangkan para arsitek ini berkali-kali bereksperimen di sepanjang sungai demi mendesain paket yang paling tepat untuk dijual kepada masyarakat. Dimana harus meloncat, dimana harus memanjat, dimana harus menyelam. Bagaimana gerakan arus, titik mana yang perlu dijaga. Semua sudah terpetakan dengan baik, sehingga pelancong seperti kami hanya tinggal menikmati sensasinya dengan resiko yang telah diminimalisir dengan cerdas.

Pinjem fotonya ya, mbak.

Usaha para arsitek ini juga didukung oleh aktor-aktor dalam sektor pendukung. Mulai dari kondisi akses jalanan yang sempat saya ulas diawal, hingga akomodasi seperti homestay (yang sangat bagus, mengingat harga yang kami bayar tidak terlalu mahal), pengantaran dan makanan, semuanya dikelola dengan cukup baik. Tidak ada komplain apapun selama kami disana. Plus, cukup terasa bahwa kegiatan pariwisata di Green Canyon sangat memberdayakan masyarakat lokal. Dan nyaris semua orang yang kami temui, mulai dari penyaji makanan di warung, supir, pemandu, hingga warga lokal merasa senang berinteraksi dengan kami -sebuah sinyal yang menandakan rendahnya asimetri distribusi hasil pariwisata.

Kalaupun boleh ada catatan, mungkin objek wisata lain selain green canyon juga perlu lebih dipoles. Ada dua pantai yang kami datangi, salah satunya pantai batu hiu. Pantai ini sebenarnya indah, dengan tebing besar yang disulap menjadi semacam taman yang teduh. Namun setelah pengalaman melakukan body rafting yang luar biasa, panai-pantai ini menjadi terasa sangat biasa. Mungkin giliran arsitek generasi selanjutnya untuk lebih mengeksplorasi pesona alam lain di Pangandaran dan mengemasnya menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para wisatawan.

Kamis, 11 Mei 2017

Ironi Pulau Pari


Setelah nyaris tiga jam perjalanan, kapal penumpang sederhana yang kami tumpangi akhirnya berlabuh di Pulau Pari. Beberapa dari kami masih basah, karena di tengah perjalanan tadi hujan sempat mengguyur penumpang di kabin atas yang tak terlindungi oleh atap yang layak. Tapi semuanya terlihat segar. Tidak ada satu pun, bahkan anak-anak, yang mabuk laut. Perjalanan ini memang tidak cantik, tapi efisien. Dan bagi kebanyakan penumpang di kapal ini, hal itu sudah cukup.

Kami menjejakkan kaki di dermaga dan diarahkan menuju homestay. Penyedia tur menjanjikan homestay menarik di pinggir pantai, tapi homestay yang kami tempati berada di tengah perkampungan -menempel langsung ke rumah pemiliknya seperti kos-kosan. Homestay itu nyaman dan bersih, dengan dua kamar mandi sempit yang tidak bisa dikunci serta tanpa ruang tengah untuk bercengkrama. Homestay ini tak lebih dari sekedar ruang tidur.

Akomodasi yang serba efisien ini, yang sengaja kami pilih untuk menghemat biaya, tidak sedikit pun mengurangi pesona pulau pari. Kami menggunakan perahu nelayan untuk melakukan snorkeling di beberapa spot yang kelabu. Tidak ada terumbu kerang berwarna-warni, dan beberapa titik masih dihidupi oleh bulu babi. Namun ada ratusan ikan jinak yang mengajak menari, dan sekali lagi itu cukup. Ada tiga pantai yang menarik, dimana kita bisa melihat matahari terbit dan terbenam, mencari bintang laut, atau sekedar berenang diantara hutan-hutan bakau. Kala itu sedang long weekend, tapi tidak sedetik pun pulau ini terasa terlalu sesak untuk dinikmati.


Bagaimanapun, pulau seribu adalah bagian dari Jakarta. Dan sama seperti Jakarta, perlu usaha keras untuk mengabaikan celah-celah masalah yang menganga. Baru enam jam kami mengenal pulau ini, saat sedikit demi sedikit pulau yang indah ini memperlihatkan betapa tidak berkelanjutannya pengelolaan wisata disini.

Kala itu kami tengah berjalan menuju tempat menikmati matahari terbenam. Cuaca berawan, matahari hampir pasti tidak kelihatan, tapi toh kami hanya punya sehari liburan. Ada anjungan panjang yang menjorok ke laut, dimana kita bisa duduk dan menyaksikan senja. "Dulu ini dermaga Pulau Pari, sekarang rusak," kata pemandu kami. Kenapa rusak? Ada pulau buatan disitu, kata sang pemandu sambil menunjuk pulau dengan deretan villa yang tengah dibangun, dimana di setiap villa terparkir speedboat. Pulau buatan itu merubah pola arus di sekitarnya, membuat sang dermaga tergerogoti, hanya menyisakan anjungan panjang yang retak disana-sini, tempat kami duduk. Sama-sama orang Indonesia, sama-sama paham, tidak ada yang perlu bertanya apakah pembangunan pulau itu berizin atau dicek dahulu dampaknya terhadap lingkungan.

Anjungan di pantai itu memiliki dua sisi, di satu sisi ada pantai bakau yang luas. Di sisi lain, hanya ada sampah. Kenapa tidak ada yang membersihkan? "Pengelolaan wisata di sini masih jadi sengketa," ujar sang pemandu. Baru beberapa minggu yang lalu, teman sang pemandu diciduk oleh aparat karena dianggap mengambil retribusi liar di salah satu pantai. Itu bukan pungutan liar, kata sang pemandu. Pantai itu dikelola swadaya oleh masyarakat sejak dulu, sampai tiba-tiba ada perusahaan yang mengklaim kepemilikannya -dan kepemilikan seluruh tempat wisata pulau pari. Perusahaan itu, sang pemandu hanya menyebutnya sebagai "PT", terus berusaha merebut pulau pari dari masyarakat. Bahkan saat ini untuk mengganti genting rumah pun masyarakat diharuskan untuk melapor dulu ke PT, ceritanya getir.


Esok paginya kami pergi ke Pantai Perawan, pantai terindah yang mengambil peran sebagai krim diatas krim di Pulau Pari. Dengan pasirnya yang putih, airnya yang tenang, dan pulau-pulau bakau kecil yang tersebar ditepian, pantai ini sangatlah cantik. Kami berenang agak jauh meninggalkan pantai utama yang ramai ke pulau bakau yang lebih kecil. Hanya ada kami disitu. Semua terasa indah dan alami, sampai kami melihat mesin penyedot pasir yang sedang tidak berfungsi. Mesin itu berukuran sedang dan terlihat jelas rakitan tangan. Ditanya tentang hal ini, sang pemandu menjelaskan dengan santai "itu untuk membentuk lanskap pantai ini."

Ada ironi yang menyengat tentang pergi dari Jakarta untuk beristirahat dari dinamika urban yang artifisial, untuk kemudian disuguhi sebuah pantai cantik yang ternyata lebih artifisial dari banyak hal di Jakarta. Sekali lagi, kami hanya bisa bertanya-tanya tentang dampak reklamasi kecil-kecilan ini terhadap habitat alami di Pulau ini. Pulau-pulau buatan di Pantai Perawan memang ditanami bakau-bakau yang kelak mungkin akan menjadi ekosistem yang sehat lagi. Tapi dalam jangka pendek, tak terbayang betapa banyaknya biota laut yang hilang karena rumah alaminya dirombak habis-habisan. Kata sang pemandu, dulu di Pulau Pari ada sekitar lima spesies bintang laut. Sekarang hanya ada tinggal satu.


Beberapa dari kami yang berkunjung ke Pulau Pari adalah bagian dari tim yang melakukan rebranding di Toraja. Jadi kami tidak benar-benar awam tentang pengelolaan wisata di Indonesia, terutama tentang betapa kecilnya perhatian para pemangku kepentingan terhadap keberlanjutan. Toraja adalah tempat wisata besar yang diperjuangkan oleh banyak aktor-aktor lokal yang visinya mengagumkan, meski kadang berbenturan satu sama lainnya. Tempat wisata lain yang sempat kami teliti, Tanjung Puting, juga dilindungi oleh banyak pemain lokal yang sadar akan pentingnya keberlanjutan. Aktor-aktor inilah yang tidak sempat kami lihat keberadaannya di Pulau Pari. Diantara persengeketaan sengit antara masyarakat dan PT, sepertinya tidak banyak ruang yang tersisa untuk memikirkan kelestarian lingkungan serta pengelolaan wisata yang dapat memberdayakan penduduk lokal.

Pulau Pari. Begitu dekat dengan Jakarta, tapi begitu jauh dari visi pariwisata negeri. Satu lagi ironi yang disuguhkan oleh Indonesia.

Senin, 01 Februari 2016

Feel Alive Yet?

Sekali lagi aku mengedarkan pandanganku, menikmati pernak-pernik berbau Tionghoa yang tersusun apik menghiasi restoran ini. Kekasihku berkali-kali mengutarakan keinginannya untuk mencoba tempat ini, tetapi belum pernah sekalipun keinginannya terpenuhi.

Pandanganku berhenti di gadis yang berada di sebelahku. Dia terlihat mengamati menu dengan serius, penuh tekad untuk menciptakan efisiensi Pareto antara harga dengan kenikmatan demi membuatku terkesan.

Seperti yang selalu ia lakukan sejak detik pertama aku melihatnya.

Rabu, 21 Oktober 2015

Tak Berdaya Melawan Start-Up: Alasan Bisnis Konvensional Selalu Kalah


Traveloka, Air B&B, Gojek, Lazada. Empat perusahaan start-up ini dapat dijuluki distruptive bussiness karena, selain memperkenalkan model bisnis baru yang digilai konsumen, mereka juga menggulung tatanan bisnis konvensional yang ada sebelumnya. Traveloka menggoyang bisnis travel agent di seluruh negeri; Air B&B dan Gojek membuat industri hotel dan transportasi dalam kota ketar-ketir; dan Lazada membantu membuat pusat perbelanjaan IT seperti Mangga Dua nyaris mati. Fenomena ini terbilang mengagumkan karena yang diganggu oleh bisnis-bisnis distruptif ini bukan hanya pemain kecil; pemimpin-pemimpin pasar yang selama beberapa dekade terakhir merajai hati konsumen pun seakan tidak berdaya menghadap para perusahaan start-up ini.

Fenomena ini tentu membuat kita bertanya-tanya. Apakah sih yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan start-up ini sehingga mereka begitu digdaya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dipahami bahwa ada tiga elemen utama yang menentukan kualitas suatu organisasi perusahaan. Tiga elemen tersebut adalah sumber daya, proses dan nilai. Sumber daya adalah aset yang dimiliki perusahaan seperti pekerja, teknologi, modal dan lain-lain. Proses adalah alur kerja baik formal seperti prosedur operasi standar maupun informal seperti pola komunikasi antar individu dan pola pengambilan keputusan. Terakhir, nilai dapat didefinisikan sebagai serangkaian sistem kepercayaan yang menentukan tingkat prioritas berbagai aspek dalam organisasi (misalnya ketika ada perbedaan pendapat, apakah lebih penting menjaga perasaan lawan atau memenangkan argumen? dll.). Di lapangan, perusahaan konvensional cenderung memiliki sumber daya yang lebih baik dibandingkan dengan start-up di awal. Tetapi proses dan nilai organisasi mereka tidak cocok dengan lingkungan bisnis era digital. Karena itulah di berbagai sektor bisnis perusahaan start-up dapat mengalahkan perusahaan konvensional dengan relatif mudah.

Mari kita ambil Traveloka sebagai contoh. Saat Traveloka memasuki bisnis online travel agent (OTA), start-up ini harus menghadapi perusahaan travel berskala nasional seperti Dwidaya Tour. Dwidaya Tour sendiri memiliki sumber daya yang cukup untuk membuat dan menjalankan bisnis OTA. Bahkan Dwidaya Tour lebih dulu memasuki bisnis OTA dengan mendirikan Ezytravel pada tahun 2008 –yang ditutup pada tahun 2009 sebelum dibuka kembali pada tahun 2011; jauh sebelum Traveloka berdiri di tahun 2012. Meski memiliki keunggulan sumber daya dan jaringan, tetapi elemen proses dan nilai Ezytravel yang kebanyakan masih diturunkan dari bisnis travel konvensional ala Dwidaya Tour membuatnya tampak kikuk ketika dibandingkan dengan Traveloka. Secara proses, Traveloka yang konsisten berevolusi untuk menciptakan user interface terbaik bagi konsumen (termasuk mobile apps) serta melakukan pemasaran melalui kombinasi media digital dan konvensional membuat Ezytravel keteteran. Secara nilai, Ezytravel yang terpaku nilai travel agent konvensional masih memprioritaskan promo murah sebagai ujung tombak pemasarannya; sementara Traveloka dengan leluasa mengeksplorasi aspek kecepatan, transparansi harga bahkan aspek emosional yang ternyata cukup diapresiasi konsumen Indonesia. Karena itulah Traveloka sekarang memimpin bisnis OTA sementara Ezytravel masih berjuang untuk merebut sisa-sisa market share.

Masih banyak contoh lain yang dapat diangkat seperti bagaimana Gojek merevolusi bisnis transportasi perkotaan dengan aplikasi smartphone meskipun perusahaan taksi Blue Bird telah meluncurkan aplikasi sejak tahun 2011. Intinya adalah, jika Anda ingin perusahaan konvensional Anda memiliki kesempatan dalam bersaing dengan perusahaan start-up, ciptakanlah proses dan nilai organisasi yang sesuai dengan lingkungan bisnis era digital.