Kamis, 13 November 2008


Dengan kekuatan yang besar, timbul tanggung jawab yang besar. With great power, come great responsibility.

 

...

 

...

 

...

 

Eh salah, maksud gua, ‘Kadang imajinasi, harapan, serta kekhawatiran bisa menjadi lebih nyata dibanding kenyataan itu sendiri.’


Gw pernah mengalami sendiri kondisi itu. Kondisi ketika harapan dan kekhawatiran terasa lebih nyata dibanding kenyataan itu sendiri. Mau denger ceritanya?? Ahh.. Mau ga mau, gw bakal tetep cerita ko.. Baca aja dengan tenang.. Dan jangan maksain diri! Kalo uda cape ngeja, istirahat dulu aja..


Sekitar 5 Bulan yang lalu..

Tangkuban Parahu, sebuah legenda tentang cinta terlarang yang mengambil gunung ini sebagai klimaks masih sering terdengar, dan masih terus diceritakan secara turun temurun oleh keluarga-keluarga di tanah nusantara. Dan dengan baju kemeja necis, sendal khusus untuk ke undangan, dan jam tangan yang sekarang uda ilang, aku mengunjungi Tangkuban Parahu yang menawan ini.


Niat awalnya sih, cuma liat-liat kawah doang. Cuma jadi wisatawan kayak lansia yang cuma numpang nebeng di depan kawah terus foto-foto sama keluarga, liat-liat cinderamata unik terus tawar menawar sama tukang dagang yang kelamaan digunung sampe-sampe ga tahu harga barang-barang yang mereka jual di pasaran dunia nyata, ga tau bahwa ISHG yang rontok telah membawa deflasi maksimum pada barang-barang jualan mereka, ga tau bahwa tanggal kadaluarsa barang yang mereka jual itu tinggal beberapa detik lagi, dst.. dst..


Setengah jam kemudian, gw bosen. Akhirnya, hanya untuk membuang waktu, gw dapet ide iseng untuk mengitari kawah terbesar di TP. Tekstur kawah Ratu TP memungkinkan kami untuk terus berjalan kekanan dan berakhir di kiri. Dengan kata lain, memutar. Rutenya terlihat jauh dan susah, tapi semangat darah muda ala Maito Gai gw malah berkobar saking inginnya menaklukan tempat ini. Berdua dengan adik gw, gw pun memisahkan diri dari keluarga besar dan mengambil jalan sendiri, jalan pemuda.


Setelah sepuluh menit berjalan di jalan utama, gw bosen juga.. ‘garing amat ni gunung,’ celetuk gw dalem hati. Pasalnya, jalan utama TP ini terlalu mulus untuk sebuah gunung, ga ada suasana advent-nya sama sekali. Akhirnya selama 10 menit berikutnya, gw jalan sambil nyanyi-nyanyi lagu Quen,


I’m a shooting star.. leaping to the sky.. Like a Tiger, defyning the law of gravity..

A racing car, passing by.. Like lady Godiva.. I’m gonna go.. go.. no one’s stoping me..


Dengen pe-denya gw terus nyanyi, padahal jalan disitu masih banyak orang. Orang-orang itu menatap gw selagi gw terus bernyanyi, entah tatapan kagum, tatapan heran, atau tatapan kasian.. ‘kasian.. ganteng-ganteng ko gila..’ mungkin itu pikiran mereka. Adik gw nutupin mukanya dan jalan 10 meter dibelakang gw, pura-pura gak kenal ama gw. Ah, peduli amat.. namanya juga gunung TP, gunung Tebar Pesona.


Beberapa menit kemudian, setelah lelah menyanyi, tekstur jalan mulai berubah. Jalan yang tadi sengaja di-batu-i kini hanya berupa tanah yang tidak diratakan. Di kiri dan kanan jalan pun, entah sejak kapan, telah berubah menjadi hutan. Kawah tidak lagi tampak batang hidungnya.


Pohon. Pohon. Pohon lagi. Disetiap belokan gw berharap pohon-pohon ini menipis dan pemandangan kembali berubah menjadi pemandangan kawah.


Takut.  Setiap langkah terasa semakin masuk kedalam hutan dan meninggalkan TP. Suasana mistis-mistisan mulai terasa. Ada plang ‘air keramat 30 meter kedepan’, Kata keramat sangat identik dengan dunia metafisika ilogika yang syarat jurang kemusyrikan. Dan kata yang dekat dengan kemusyrikan biasanya berkaitan dengan dunia gaib. Dan kadang-kadang, berada terlalu dekat dengan sesuatu yang terkait dengan dunia gaib sangat menyeramkan. Untungnya, jalan menuju air keramat-keramatan itu berbeda dengan jalan yang harus diambil gw.


Deg.. Deg.. nyasar bukan sih.. kayaknya nyasar deh.. pikiran-pikiran itu menghantui gua. Apalagi, sekarang udah ga ada orang lagi selain gw dan adik gw. Bunyi-bunyian hutan yang menyeramkan dan jeritan siamang yang sekali-kali terdengar membuat bulu kuduk berdiri. Ini hutan.. Gw bukan di TP lagi.. Gw nyasar ke ujungkulon..


Hutan yang masih steril dan alami menyumbangkan imajinasi-imajinasi buruk. Seperti harimau yang tiba-tiba menerkam dari belakang, sesosok hantu hutan yang berusaha memakan gw, Legolas yang berusaha memanah gw untuk merebut gelar cowo paling cool sekelas, dan banyak lagi pikiran-pikiran buruk yang menghantui. Bahkan, aura adik gw terasa terus menipis, rasanya seperti benar-benar sendirian.


30 menit atau lebih.. terus menyusuri hutan yang hijau nan dingin.. akhirnya jalan gersang khas kawah pun mulai muncul lagi. Tak terasa, hutan menyeramkan kini telah pergi, digantikan dengan jalan bebatuan yang gersang, kering, dan berbau belerang. Entah mengapa, pemandangan kawah justru lebih menentramkan hati dibanding hutan. Perkataan guru bahasa Inggrisku bahwa warna hijau membawa ketenangan telah kubuktikan sebagai bullshit.


“Alhamdulillah.. terimakasih tuhan..” ucapku lirih sambil bernafas lega. Namun ketika mataku sadar akan medan yang harus kuhadapi, aku menelan ludahku.


“Ya tuhan...” ucapku lebih lirih lagi..

 To Be Continued


soundtrack lama film flame of recca.. ^-^

1 komentar:

Anonim mengatakan...

cieeeh..
keren banget fotonya...
tangkuban perahu emang menyimpan byak cerita!