Rabu, 09 September 2015

Emosi dan Pengambilan Keputusan


Saat Irlandia mengalami kelaparan besar-besaran pada tahun 1845-1542, Pemerintahan Inggris mengirimkan pejabat-pejabat secara silih berganti untuk mengatasi krisis tersebut. Kebanyakan pejabat tersebut akhirnya gagal, tapi ada satu pejabat yang menonjol karena kesuksesan serta metodenya yang unik. Pejabat tesrebut secara konsisten menolak untuk melakukan peninjauan lapangan dan lebih memilih bekerja dari mejanya. Alasannya sederhana, pejabat tersebut tidak ingin emosinya terlibat. Ia tahu apabila ia melakukan peninjauan lapangan, hatinya akan terenyuh oleh kondisi orang-orang yang kelaparan dan Ia akan membuat keputusan-keputusan bodoh karena terpengaruh emosi.

Kaitan antara emosi dan pengambilan keputusan memang menarik. Di satu sisi, emosi adalah pemicu pengambilan keputusan yang paling efektif. Di sisi lain, emosi bukanlah dasar pengambilan keputusan yang bijak. Hal ini sudah disadari manusia sejak lama, salah satunya oleh Aristoteles yang dalam kajian retorika-nya mengklasifikasikan berbagai ‘jalur’ emosi seperti rasa marah, sedih, takut dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan persuasi secara efektif; sambil memperingatkan bahwa jalur persuasi yang baik dan ‘terhormat’ tetaplah melalui logika.

Dahsyatnya pengaruh emosi terhadap pengambilan keputusan kembali terbukti saat foto Aylan yang terbujur kaku di tepian pantai Turki beredar luas. Aylan adalah pengungsi perang saudara di Suriah yang sedang berusaha mencari suaka secara ilegal di Eropa. Sontak, gelombang kesedihan, kemarahan dan rasa frustasi masyarakat internasional menggelegak; mendorong Uni Eropa untuk menampung lebih banyak pengungsi dan melonggarkan standar penerimaan pengungsi. Tuntutan ini dikabulkan hampir segera oleh pemerintah banyak negara.

Keputusan untuk menampung lebih banyak pengungsi ini sejatinya tidak bijak karena ia tidak berdasarkan data/statistik atau berdasarkan logika (detail bisa didiskusikan lebih lanjut/diriset secara terpisah). Pertama, gelombang pengungsi dari Suriah (dan orang-orang yang tewas tenggelam di perjalanan) sudah ada sejak empat tahun yang lalu dan Uni Eropa secara sistematis dan terukur sudah menampung pengungsi; tidak ada alasan valid untuk tiba-tiba meningkatkan pengungsi yang diterima secara sembrono. Kedua, sumber masalah ada pada konflik di Suriah sehingga energi masyarakat internasional seharusnya difokuskan untuk menyelesaikan konflik; bukan menampung pengungsi yang jumlahnya tidak akan habis selama konflik masih ada. Ketiga, masalah pengungsi tidak selesai begitu mereka sampai di Eropa; gegar budaya dan kurangnya keahlian pengungsi justru akan membawa masalah dalam jangka panjang.

Jika mengacu pada Elaborate Likehood Model, emosi melakukan persuasi melalui rute pheripheral (secara literal berarti ‘kurang penting’). Rute pheriperal lebih efektif melakukan persuasi karena informasi yang melalui rute ini tidak dipikirkan secara matang-matang. Namun, perubahan sikap atau pengambilan keputusan yang dihasilkan rute pheripheral bersifat sementara, mudah berubah dan tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, diperkirakan setelah segala emosi mereda, pemerintah yang terkait serta masyarakat internasional akan kembali kepada sikap awal mereka sebelum foto Aylan beredar –for better of worse.


Begitulah; seandainya fotografer tidak mengambil foto Aylan atau Aylan tidak terdampar di pantai dengan posisi yang begitu menyentuh, maka Aylan hanya akan menjadi satu lagi angka yang tidak signifikan dalam catatan statistik. Ironisnya, justru statistik inilah yang lebih bijak digunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan.

Tidak ada komentar: