Jumat, 22 Maret 2013

A Day in Jakarta

Sekitar empat tahun yang lalu, saya pernah berkelana di Jakarta Selatan sendirian untuk mengikuti ujian tulis Universitas Gadjah Mada. Allhamdulilllah waktu itu akhirnya saya bisa pulang dengan selamat dan lolos masuk jurusan ilmu komunikasi.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali ke Jakarta Selatan. Masih dalam rangka merajut masa depan. Bedanya kalau empat tahun yang lalu saya ke Jaksel untuk memeras otak, kali ini saya datang untuk bersilat lidah. Interview kerja.

Agak lucu sebenarnya. Kembali ke tempat dimana segalanya bermula setelah kamu berkelana begitu jauh. Ada beberapa tempat familiar seperti terminal kampung rambutan yang membuat kenangan-kenangan lama berputar kembali. Rasanya banyak sekali yang telah berubah, banyak sekali langkah yang telah ditempuh, dan banyak sekali hal baru yang telah tumbuh dalam diri saya sejak empat tahun yang lalu.

Interview dimulai pukul sepuluh pagi di Pondok Indah Office Tower lantai 17. Agak canggung juga rasanya, naik ke lantai gedung yang begitu tinggi setelah sebelumnya diperiksa oleh satpam dan diberi kartu identifikasi berlabel 'visitor'. Untungnya begitu masuk kantor, atmosfer yang ramah langsung menyambut saya. Ada satu orang pegawai disana yang sama-sama datang dari Yogyakarta. Dia langsung mengajak saya berkenalan dan membuat ketegangan saya sedikit mereda.

Selain pegawai tersebut, saya juga bertemu dengan seorang pelamar kerja yang lain. Kami bersalaman, tapi tidak bertukar nama. Dia baru saja keluar dari ruang interview dan terlihat sangat gugup seperti sedang menunggu istrinya melahirkan.Setelah beberapa menit menunggu, saya dipersilahkan masuk kedalam ruang interview.

Sesi pertama interview ternyata berupa tes IQ. Sebenarnya saya sedikit bersyukur karena Tes IQ merupakan salah satu hal yang saya kuasai. Seandainya waktu itu saya di tes menggambar atau di tes bermain voli pasti saya langsung menerjunkan diri dari lantai 17.

Sesi kedua interview dipegang oleh sekertaris perusahaan. Pertanyaan yang ditanyakan adalah serentetan pertanyaan dasar mulai dari 'ceritakan tentang diri anda', 'apa motivasi anda', 'apa kelebihan dan kekurangan anda' dan sebagainya. Pelajaran yang saya tangkap di sesi ini ada dua. Pertama, pertanyaan dalam interview itu memang tidak akan jauh dari pertanyaan dasar. Oleh karena itu, persiapkan diri sebaik mungkin sebelum terjun ke medan laga. Kedua, ternyata penting sekali untuk menjaga percakapan tetap cair.

Setelah itu, sesi ketiga pun dimulai. Sesi ketiga interview dipegang langsung oleh pemilih perusahaan yang bernama Ibu Tomi. Komentar pertama beliau adalah "tes pertama tadi itu bukan buat mengukur kecerdasan kamu loh, ibu tahu kok kalau kamu ga cerdas ga mungkin dapet IPK segini." katanya sambil menunjuk IP saya (sebenarnya ga sampai cum laude >_<) yang tertulis di CV. Jadi ternyata bagaimana juga IP itu diliat. Meskipun cuma sekilas dan ga terlalu menentukan, tapi IP itu diliat. Makanya hati-hati kalau sedang berlindung dibalik asumsi umum bahwa "IP itu ga diliat kok," IP emang ga harus bagus-bagus amat, tapi harus cukup memuaskan ketika dilihat sekilas.

Kita kemudian mengobrol sedikit dan beliau bercerita tentang sistem kerja di perusahaan tersebut. Dari sesi interview ketiga ini, ada satu hal lagi yang menjadi pelajaran buat saya. Pengalaman organisasi itu amat sangat dilihat, tapi yang dilihat adalah kualitasnya bukan kuantitasnya. Pengalaman organisasi yang relevan dengan dunia pekerjaan juga jauh lebih menjual dari sekedar organisasi biasa. Jadi pastikan kita mendapat posisi-posisi yang bagus/strategis di organisasi yang relevan dengan dunia kerja.

Setelah itu, interview selesai dan saya dipersilahkan pulang. Katanya keputusan penerimaan atau penolakan akan dikirim melalui email dalam jangka maksimal satu minggu.

Saat itu sebenarnya ekspektasi saya tidak begitu tinggi. Secara umum saya memiliki nilai jual rendah karena baru berusia 20 tahun, tanpa pengalaman pekerjaan atau magang, dan bahkan belum lulus. Seandainya saya tidak diterimapun saya cukup bahagia untuk bisa berjalan-jalan ke lantai 17 dan diinterview oleh perusahaan konsultan public relation sungguhan..

Tapi ternyata saya diterima. Email konfirmasi langsung datang tiga hari setelah hari interview. Agak surreal rasanya, bisa mendapatkan pekerjaan dan kestabilan dengan jalan yang selancar ini. Ternyata Bintang Tujuh memang lebih benar daripada Tolak Angin. Sepintar apapun kamu, akhirnya yang menentukan jalan kamu adalah keberuntungan.

Saat ini kadang saya berpikir bahwa bekerja di umur 20 tahun adalah sesuatu yang menyedihkan. Saat orang-orang masih bersenang-senang, saya harus mulai banting tulang untuk anak dan istri di masa depan.

Tapi kemudian saya melihat bayangan saya dicermin dan membayangkan bagaimana saya terlihat saat memakai kostum kerja. Lalu saya berpikir...

I'm awesome. ;-)  

2 komentar:

Putri Tika mengatakan...

Salman, kamu lolos interview? so it means kamu keterima dan bakal kerja disana?
Tega banget kamu!
Selamat yaaaaa, Man!
Miss you so bad!

Wina Dwi S mengatakan...

Kata Rachel on gLee, "Power through it!"


Kalau ga inget e-mail gua, SMS aja ya :")