Minggu, 25 September 2011

Aku Benci Koran Hari Minggu

“If you need a job to live, than you either need a new job or a new life.” –Chief Webber.

Dear reader,

Bagi banyak orang, hari Minggu adalah hari yang dinanti-nanti. Hari Minggu merupakan kesempatan bagi kita untuk lepas dari rutinitas weekday yang melelahkan, sekaligus memberikan kita keluangan untuk bercengkrama bersama keluarga, bermain bersama teman, atau sekedar menekuni hobi. Dengan premis yang menjanjikan tersebut, siapa sih yang tidak menyukai hari Minggu?

GUA. Gw sama sekali tidak menyukai hari Minggu. Alasannya, gw adalah seorang penganut ideologi squidwarisme. I tend to see things negatively. I hate all the joy, the laugh, the carefreeness, dan segala macam hal indah lain yang dibawa oleh hari Minggu. Selain itu, gw juga tidak memiliki prasyarat yang diperlukan untuk menciptakan hari Minggu yang indah. I’m far from familiy. I have a lot of friends, of course, but no one special enough to turn on my day. And worse, I don’t have any hobbies. Dulu, satu-satunya yang membuat hari Minggu gw cukup berarti untuk dinanti adalah jadwal badminton rutin setiap Minggu pagi. Tapi sekarang, rutinitas itu telah lenyap ditelan oleh perubahan-perubahan yang dibawa oleh waktu. -,-

Dan yang membuat hari Minggu lebih buruk adalah: surat kabar Minggu. Pada weekday, surat kabar biasanya berisi berita-berita berat, isu-isu yang memusingkan, kabar mengkhawatirkan, dan sejenisnya. Informasi-informasi semacam itu merupakan makanan favorit gw, karena mereka menegaskan kenyataan bahwa dunia adalah tempat yang kacau. And believe it or not, gw sangat bahagia ketika dunia ini kacau. Sayangnya, pada hari minggu, informasi-informasi favorit gw ini menghilang. Digantikan oleh pembahasan yang lebih santai, humanis, dan ‘indah’.

Contohnya, hari ini Kompas membahas tentang bagaimana rendang dinobatkan menjadi makanan paling enak di dunia (berdasarkan survei CNN). Dude! Siapa juga yang peduli sama rendang saat Palestina harus pontang-panting buat dapetin persetujuan 9 dari 15 anggota dewan keamanan? Siapa yang peduli sama nasi goreng (peringkat dua makanan paling enak) saat Uni-Eropa harus memutuskan antara menendang Yunani dari UE atau memberikan lebih banyak dana talangan? Siapa yang peduli sama rendahnya usaha pemerintah untuk mempromosikan kuliner saat pelaksanaan Sea Games terancam gagal total? Pada hari-hari normal, para pembaca surat kabar akan menganggap remeh isu rendang tersebut! Namun, sihir hari Minggu membuat orang-orang lebih peduli akan rendang daripada isu-isu nyata. Mengerikan bukan?

Sisi baiknya, selalu ada sejumput hal-hal menarik dalam koran hari Minggu. Di koran Tempo hari ini, ada dua tulisan yang membuat gw tergugah. Tulisan pertama adalah rubrik ‘profil’ yang mengulas tentang Maudy Ayunda. Maudy adalah gadis kelahiran 19 Desember 1994 yang masih duduk di kelas 3 SMA. Namanya terkenal lewat perannya dalam beberapa film ‘bermutu’ (atau setidaknya, niatnya bermutu) seperti Untuk Rena, Sang Pemimpi, Rumah Tanpa Jendela, serta Tendangan dari Langit. Yang membuat gadis cantik ini berbeda adalah: (1) dia berbakat dalam bidang musik serta (2) DIA SUKA FILSAFAT DAN POLITIK. Ketika ditanya kenapa masih jomblo, Maudy beralasan dia takut pasangannya ‘susah’ kalau diajak ngomong hal-hal yang berat dan tak lazim. Dude! Gw harap suatu saat jalan takdir gw bersinggungan sama do’i. -,-

Tulisan menarik yang kedua adalah tulisan Thomas Koten yang berjudul ‘Sikap Religius Para Saintis’. Koten membahas tentang sisi religius para ilmuwan yang kerap dituduh ateis. Masalahnya adalah, ilmuwan (atau orang cerdas, minimal IQ superior lah ~_~) cenderung tidak menyukai konsep teologis yang diusung oleh agama-agama mapan. Albert Einstein bersabda ‘para teolog terlalu memandang dan memahami tuhan sebagai sosok personal dengan kehendak maha-niscaya yang hanya menghukum dan memberi pahala bagi mahluk-mahluk-nya’. Gw setuju sama gagasan kakang Einstein ini, karena gw lebih suka memahami tuhan sebagai entitas deity yang netral daripada sosok yang punya ‘keinginan’, yang ‘memihak pada salah satu golongan’, dan dalam berbagai kesempatan ‘turun tangan langsung untuk mengubah sejarah’. Wouldn’t it be nice if –as Spinoza stated- ‘Tuhan adalah struktur pengatur kosmis yang mempersonal’?

That’s all folks.

Jumat, 23 September 2011

Banggar-uk Pantat Singa

Dear reader,

Demokrasi adalah konsep yang telah ada sejak sekitar 2300 tahun yang lalu. Dimulai dari Athena, lalu berlanjut ke Romawi, lalu menghilang sementara seiring dengan menguatnya monarki dan teokrasi vatikan serta islam, lalu muncul lagi di Belanda lewat revolusi borjuis, diikuti Inggris lewat revolusi mawar, menyebrangi atlantik ke Amerika Serikat pasca perang kemerdekaannya, lalu singgah sebentar di Prancis sebelum digantikan oleh kekaisaran Napoleon, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia lewat kolonialisasi dan imperialisasi. Selama itu, konsep demokrasi terus berkembang. Awalnya, ‘suara’ hanya diberikan pada golongan laki-laki yang kaya dan terpandang. Lalu lambat laun, semua laki-laki, wanita, serta ras-ras minoritas juga turut diberikan hak yang setara dalam demokrasi.

Kenapa demokrasi ini kemudian bisa populer? Ada beberapa pendapat yang dapat menjawab pertanyaan ini. Pertama, ada yang berpendapat bahwa demokrasi dapat populer karena sifat pluralisnya. Dimana semua golongan mendapat suara, semua golongan dapat terlibat dalam proses politik, dan yang paling penting: semua golongan dapat berkompetisi secara adil sehingga secara alamiah, tidak akan ada golongan yang mendominasi golongan lain.

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa demokrasi dapat populer karena mekanisme demokrasi modern telah dapat sedemikian rupa menyeimbangkan keinginan penguasa untuk terus menjabat dengan keinginan masyarakat untuk terwakili. Dalam demokrasi, satu-satunya jalan bagi penguasa untuk terus menjabat adalah adalah dengan mendengarkan rakyat, bukan dengan memeras rakyat seperti yang biasa dilakukan oleh monarki. Dengan kata lain, demokrasi adalah win-win solution.

Tapi pendapat terakhir, disadur dari pemikiran Karl Marx, berpendapat bahwa demokrasi dapat populer karena ia menyediakan mekanisme dimana golongan elit dapat memeras masyarakat sambil tetap mendapatkan legitimasi dari masyarakat tersebut. Indonesia agaknya merupakan contoh yang sempurna untuk pendapat nomor 3. Aksi mogok yang dilakukan oleh Banggar baru-baru ini merupakan sebuah bukti nyata tentang bagaimana sistem demokrasi di Indonesia memang benar-benar sebuah lahan permainan bagi para elit untuk memeras rakyatnya.

Seperti yang dapat kita saksikan di media, aksi mogok Banggar bermula dari inisiatif KPK untuk menyelidiki pernyataan Nazarudin mengenai keterlibatan Banggar dalam skandal kemenpora dan kemenakertrans. Namun, bukannya bekerja sama untuk memuluskan penyelidikan KPK, Banggar justru menganggap KPK melakukan intervensi terhadap kinerja Banggar sehingga Banggar membalas dengan menghentikan perancangan RAPBN yang harus selesai pada 21 Oktober. Langkah Banggar ini tentu malah membuat kita curiga. Kalau Banggar memang ‘bersih’, tentu tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak penyelidikan KPK. Mengikuti prinsip anak muda yang sedang kasmaran: “kalau gugup, deg-degan, atau menghindar... pasti ada apa-apanya.”

Seandainya pemerintah adalah sungai, maka Banggar adalah hulu-nya. Dan jika hulu sungai sudah tercemar, maka seluruh sungai tersebut kemungkinan telah turut tercemar. Pertanyaannya kini: “Kok bisa-bisanya bapak-bapak dan ibu-ibu Banggar tersebut menduduki posisinya yang sekarang?” Seperti yang kita ketahui, anggota Banggar adalah anggota legislatif yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Jadi, sebelum mulai menyalahkan pemerintah ‘busuk’, tanya dulu diri kalian masing-masing. Yang membuat anggota dewan bisa duduk di kursinya yang sekarang itu ya masyarakat sendiri. Kasus Banggar ini hanya salah satu dari sekian banyak kasus yang mempertontonkan problematika integritas dan bahkan intelejensi dari para anggota dewan kita yang terhormat. Mengapa masyarakat Indonesia bisa sepakat menaruh orang-orang yang ‘meragukan’ tersebut untuk mewakili mereka?

Jawabannya mungkin sesuai dengan pendapat kakang Karl Marx yang telah dibahas sebelumnya. Karena orang-orang yang ‘meragukan’ tersebut telah sukses menciptakan ‘ilusi’ yang membuat masyarakat memberikan legitimasinya pada mereka. Untungnya, demokrasi memberikan jalan bagi kita untuk membersihkan pemerintahan kita dari orang-orang ‘meragukan’ serta untuk lepas dari ilusi. Jalan tersebut adalah: BE SMART! Pilih orang yang benar, jangan pilih hanya berdasarkan partai. Ketahuilah track reckord, pandangan politik, intelejensi, serta integrasi para kandidat sebelum memilih mereka. Dan seandainya anda tidak cukup pintar untuk membedakan baik-buruk kandidat, jika anda tidak mengetahui mengenai aktivitas politik kandidat-kandidat tersebut, dan jika anda tidak cukup ‘tercerahkan’ untuk dapat memperkirakan potensi penyimpangan para kandidat tersebut, maka tolonglah... jangan ikut milih! :D

That’s all folks.

Kamis, 22 September 2011

Palestina Sebagai Anggota PBB? Kasih Gak Ya?

“Pray, people. We want god in this building today.” –Chief Webber, Grey’s Anatomy

“There is no spoon” –Bald boy, Matrix Reloaded

Dear reader,

Mahmoud Abbas, Presiden Palestina, baru-baru ini melakukan tindakan yang sangat drastis: mengajukan proposal permohonan penerimaan Palestina sebagai anggota resmi PBB. Selama ini, karena kedaulatannya yang tak kunjung jelas, kedudukan Palestina di PBB hanya sebatas negara pengawas. Akibatnya Palestina tidak memiliki akses terhadap berbagai hak asasi kenegaraan yang diakui PBB –termasuk hak vital untuk memiliki perbatasan dan kedaulatan yang jelas. Padahal perbatasan dan kedaulatan yang diakui secara internasional merupakan prasyarat yang sangat penting bagi sebuah negara untuk bisa hidup dengan tenang. Karena tanpanya, negara-negara tetangga anda dapat seenaknya ‘masuk ke pekarangan dan buang air besar disana’ tanpa mendapatkan sanksi formal yang berarti dari dunia internasional.

Saat ini, satu-satunya yang dimiliki Palestina sebagai basis yuridis perbatasan dan kedaulatannya adalah berbagai perjanjian internasional dengan Israel. Hal yang lucu dari perjanjian internasional adalah, kedua pihak yang berjanji harus memiliki ‘kekuatan tawar’ yang setara agar perjanjian tersebut dapat dihormati. Karena jika tidak, pihak yang memiliki ‘kekuatan tawar’ lebih besar dapat dengan semena-mena melanggar perjanjian tersebut tanpa banyak masalah. Bayangkan jika anda berada di pihak Israel, apa susahnya sih melanggar perjanjian dengan Palestina? Toh, secara militer, ekonomi, dan politik, Palestina tidak bisa berbuat apa-apa seandainya anda melanggar perjanjian tersebut? Benar, kan?

Maka dari itu, jelas saja saat ini Israel ketar-ketir dengan usaha permohonan penerimaan Palestina sebagai anggota resmi PBB yang digagas oleh Mahmoud Abbas. Jika usaha Abbas berhasil, maka Israel tidak bisa lagi seenaknya mencaplok tanah Palestina. Artinya, tidak ada lagi pembangunan tembok perbatasan serta pemukiman Yahudi. Padahal, dua hal tersebut merupakan hal yang vital untuk mewujudkan mimpi Zionis dalam menciptakan ‘Israel Raya’ dimana semua orang yahudi dapat kembali bersatu dibawah satu negara, seperti saat zaman kejayaan mereka dibawah pemerintahan Raja Daud.

Untuk menjegal usaha Abbas, perdana menteri Israel menawarkan untuk membuka kembali negosiasi perdamaian yang sampai saat ini mandek. Tapi, Palestina menyatakan bahwa tawaran Benyamin (perdana menteris israel, red.) tersebut hanya pemanis mulut yang bertujuan untuk menarik dukungan internasional. Pernyataan tersebut agaknya memang tidak berlebihan, karena dalam berbagai negosiasi sebelumnya, antusiasme Israel untuk bernegosiasi secara serius dengan Palestina sangat rendah. Seandainya negosiasi tersebut berhasil pun, kecil kemungkinan Israel akan mengikuti hasil negosiasi tersebut tanpa melanggarnya.

Terlepas dari hal-hal diatas, penulis merasa peluang Palestina untuk memenangkan posisi sebagai anggota tetap PBB sangatlah rendah. Meskipun simpati dunia internasional pada umumnya berpihak pada Palestina, Amerika Serikat tetap kukuh pada posisinya sebagai sekutu sejati Israel. Mereka menyatakan siap untuk menggunakan hak veto mereka untuk menggagalkan usaha Palestina. Para pendukung Palestina yang datang dari daratan Eropa seperti Inggris dan Prancis juga turut menarik dukungan mereka karena konfrontasi dengan Amerika Serikat saat Uni Eropa berada diambang krisis dirasa terlalu beresiko. Sisa pendukung Palestina adalah negara-negara yang pengaruhnya relatif kecil. Dan meski Indonesia, Mesir, dan negara-negara islam lainnya berjanji untuk mendukung Palestina, tapi kecil kemungkinan mereka akan rela ‘berkotor-kotor’ untuk membantu saudara kecilnya tersebut.

Kesimpulannya, meski pada media Abbas berkata “persetan dengan semua tekanan itu,” tapi sejatinya Abbas benar-benar butuh keajaiban tuhan atau keajaiban matrix untuk bisa berhasil.

That’s all folks.

Rabu, 21 September 2011

Social Movement 2.0: Ajang Manipulasi dan Spin-Doctoring

“Stupid, stupid, stupid.” –Miranda Bailey, Grey’s Anatomy

“Arizona State University kalau disingkat jadi apa coba?” –Nicko, 2011-09-21

Hei readers,

Lama tidak berjumpa. Sebenarnya saya ingin kembali curhat mengenai kegalauan hidup saya, tapi sayangnya saya menemukan sesuatu yang lebih menarik untuk dibahas, yakni Social Movement 2.0. Jadi ceritanya, beberapa jam yang lalu, saya menjad tumbal untuk mewakili komako dalam sebuah kuliah terbuka jurusan Sosiologi. Tema dari kuliah terbuka tersebut adalah youth, social media, and social movement, dan pembicaranya adalah Merelyn something: orang Indonesia yang menjadi dosen di Arizona State University (ASU). Tadinya, gw mengira ini akan menjadi sebuah kuliah terbuka yang membosankan. I mean, apalagi sih yang bakal dibahas dari tema tersebut selain yada-yada Mesir, yada-yada revolusi, yada-yada facebook, yang kesimpulannya gak bakal jauh-jauh dari satu kalimat: ‘Social media membantu pemuda melakukan social movement’. Gw udah yakin kuliah terbuka ini cuma bakal stating the obvious. Apalagi, di malam sebelumnya, gw ngobrol bareng seorang mahasiswa Perancis yang berpendapat bahwa the shitty american (kalangan akademisi didikan Amerika) adalah master of the obvious yang selalu membahas hal sederhana dengan cara yang rumit. “So stupid as usual,” katanya setelah membaca sebuah chapter mengenai teori komunikasi dari amerika.

Well, untungnya, prediksi gw salah total. Teteh Merelyn ini ternyata sama sekali bukan dosen biasa. First, dia cantik dan dia pake baju tanpa lengan. Second, dia orang sunda (behold... ras tercantik dan ras terpintar di Indonesia! #fasis). Third, apa yang dia sampaikan sama sekali tidak obvious apalagi stupid. Dia menawarkan perspektif baru untuk melihat relasi antara pemuda, social media, dan social movement. Dia berpendapat bahwa ide mengenai internet dan sosial media sebagai juru selamat yang dapat merubah dunia politik dan dunia sosial ke arah yang lebih baik bagi masyarakat adalah ide yang hanya benar separuh. Lebih jauh lagi, dia menjelaskan bagaimana ekspektasi utopis terhadap sebuah media yang baru lahir adalah kesalahan yang telah terjadi berulang kali dalam sejarah. Pasalnya, ketika radio baru muncul, para ilmuwan juga memandang radio akan menjadi juru selamat yang akan membawa keadilan dan kebebasan di muka bumi. Padahal kenyataannya, sekarang kebanyakan radio cuma jadi kotak musik yang didenger sama orang-orang galau atau orang-orang yang terjebak macet. Ekspektasi juru selamat juga dialamatkan pada televisi komunitas, video komunitas, dan bahkan... sepeda. Dan seperti yang bisa kita lihat sekarang, ekspektasi tersebut sangat ‘jauh panggang dari api’.

Meski begitu, bukan berarti teteh Merelyn meniadakan sama sekali peran social media dalam membangun social movement. Dengan menggunakan kasus Cicak & Buaya serta Koin Untuk Prita sebagai bahan studi, teteh Merelyn menyimpulkan bahwa social media memang dapat menciptakan social movement. Tapi ada dua catatan yang harus diperhatikan. Pertama, social movement yang tercipta dari social media adalah gerakan yang sifatnya kurang lebih sama seperti crowd psychology. Artinya, akan ada banyak orang yang terlibat, akan ada banyak aktivitas, akan ada banyak ‘rame-rame’, tapi tidak banyak orang yang mengerti penuh mengenai isu yang diperjuangkan. Mengapa? Karena kemungkinan besar, orang-orang terlibat dengan gerakan sosial tersebut karena alasan emosional dan peer pressure. Bukan karena pertimbangan rasional. Kedua, ada dua elemen penting dalam sebuah social movement: simbolisasi dan resonansi. Salah satu contoh simbolisasi adalah Cicak dan Buaya. Melalui simbol cicak dan buaya, tersampaikan pesan mengenai golongan baik kecil melawan golongan besar yang jahat dan kuat. Simbol ini menjadi penting, karena ia dapat menyederhanakan segala intrik dan konflik yang rumit antara KPK, polisi, dan jaksa agung menjadi sekedar pertarungan antara si baik lemah dan si jahat kuat. Masyarakat mungkin sama sekali tidak mengerti dan tidak peduli terhadap apa yang sebenarnya tejadi antara KPK, polisi, dan jaksa agung. Tapi mereka mengerti satu hal: si baik lemah butuh bantuan kita semua untuk menang melawan si besar kuat. Berkat simbolisasi ini, KPK mendulang kemenangan besar dalam perang opini publik.

Kesimpulannya, social movement berbasis social media adalah sesuatu yang stupid. Dimana orang-orang digerakan oleh emosi, simbolisasi, dan resonansi. Bukannya oleh proses berpikir yang rasional. Nevertheles, stupid atau tidak, social movement berbasis social media merupakan sesuatu yang sangat kuat. Karena kuat dan bodoh tidak pernah menjadi kombinasi yang bagus, ada satu pertanyaan harus bisa kita jawab: “Apa yang harus kita lakukan seandainya perusahaan kita diserang oleh sebuah social movement?”

That’s all folks.